Daya Tarik Pura Besakih di Bali: Histori dan Kegunaannya

Pura Agung Besakih, atau dikenal juga sebagai Mother Temple of Bali, merupakan pura terbesar dan pusat kegiatan seluruh umat Hindu di Bali. Kompleks pura ini terdiri dari satu pura pusat yang bernama Pura Penataran Agung Besakih dan 18 pura pendamping yang tersebar di sekelilingnya.

Daya Tarik Pura Besakih

Mother Temple of Bali menawarkan daya tarik lain di sekitarnya, seperti hubungan sejarah dan filosofi spiritual yang kuat. Pura ini terletak di desa yang dipilih karena dianggap suci, yang awalnya disebut Hulundang Basukih sebelum menjadi Desa Besakih. Nama Besakih berasal dari Bahasa Sansekerta “wasuki” atau dalam bahasa Jawa Kuno “basuki” yang berarti selamat. Nama ini juga terkait dengan mithologi Naga Basuki sebagai penyeimbang Gunung Mandara.

Pura ini dibangun oleh Rsi Markandeya, seorang tokoh agama dari India yang sudah lama tinggal di Pulau Jawa. Menurut cerita, saat Pulau Jawa dan Bali masih menyatu sebagai Pulau Dawa, Rsi Markandeya mendapat wahyu saat bertapa di Gunung Dieng untuk pergi ke pulau tersebut.

Asal Usul Nama

Nama Besakih berasal dari Bahasa Sansekerta, wasuki, yang dalam Bahasa Jawa Kuno disebut basuki dan berarti selamat. Selain itu, nama Besakih juga dikaitkan dengan mitologi Naga Basuki sebagai penyeimbang Gunung Mandara.

Sejarah

Berdasarkan penelitian ilmiah dari IDG Windhu Sancaya dan buku karya David J. Stuart Fox yang berjudul “Pura Besakih: Pura Agama, dan Masyarakat Bali”, terdapat beberapa sumber terkait pendirian Pura Besakih.

1. Sri Kesari Warmadewa:

Berdasarkan catatan sejarah dan kisah-kisah rakyat, Sri Kesari Warmadewa, yang mendirikan dinasti Warmadewa dan menguasai Bali selama beberapa abad, dipercaya sebagai pendiri awal kompleks pura di Besakih.

2. Perdebatan Sejarah:

Keraguan muncul mengenai hubungan Sri Kesari Warmadewa dengan dinasti Jaya pada abad ke-12 (1131-1200), yang meliputi dinasti Jayasakti, Ragajaya, Jayapangus, dan Ekajaya Lancana.

3. Mpu Kuturan dan Mpu Bharadah:

Nama dua tokoh lainnya, Mpu Kuturan dan Mpu Bharadah, juga berkaitan dengan sejarah Besakih. Mpu Kuturan dikaitkan dengan Pura Peninjoan dan dianggap sebagai arsitek utama pembangunan Pura Besakih.

4. Rsi Markandeya:

Legenda lain tentang pendirian Pura Basukian menyebutkan tokoh Rsi Markandeya dari Gunung Raung di Jawa Timur. Cerita ini diyakini berdasarkan koleksi E.Korn tahun 1932 dan baru muncul pada 1930-an.

Peninggalan Megalitik

Kompleks Pura Besakih memiliki beragam peninggalan dari era megalitik, termasuk tahta batu, menhir, dan struktur teras piramida. Ini menunjukkan bahwa Pura ini telah berdiri sejak zaman kuno, jauh sebelum pengaruh agama Hindu masuk.

Makna Pura Besakih

Tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah besar bagi umat Hindu Bali, tetapi juga memiliki makna mendalam yang berkaitan dengan Gunung Agung yang dianggap memiliki kekuatan gaib yang harus disembah dan dilestarikan. Pura Besakih juga menjadi destinasi wisata yang menarik karena lokasinya yang menawarkan pemandangan alam yang indah dan menenangkan.

1. Konsep Tri Hita Karana:

Kompleks Pura Besakih dibangun dengan memperhatikan keseimbangan alam sesuai dengan konsep Tri Hita Karana. Penataan bangunannya dirancang berdasarkan arah mata angin sebagai lambang keseimbangan.

2. Struktur Mandala:

Setiap arah mata angin diwakili oleh mandala dengan dewa penguasa yang dikenal sebagai Dewa Catur Lokapala. Kelima mandala ini diwujudkan sebagai Panca Dewata.

Struktur bangunan meliputi:

  • Pura Penataran Agung Besakih: pusat mandala, pura terbesar untuk Dewa Çiwa.
  • Pura Gelap: timur, untuk Dewa Içwara.
  • Pura Kiduling Kereteg: selatan, untuk Dewa Brahmana.
  • Pura Ulun Kulkul: barat, untuk Dewa Mahadewa.
  • Pura Batumadeg: utara, untuk Dewa Wisnu.

Alamat lengkap  adalah Jl. Gunung Mas, Desa Besakih Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali.

Biaya Masuk dan Jam Operasional

Tiket masuk ke Pura Besakih Maret 2025 adalah Rp30.000 per orang. Jika membawa kendaraan, biaya parkir sebesar Rp5.000 untuk sepeda motor dan Rp10.000 untuk mobil. Buka mulai pukul 08.00 hingga 18.00 WITA.

| Baca : 7 Tempat Wisata Dekat Pantai Kuta Bali – Daya Tarik, Ulasan, Aksi dan Atraksi

Rute dan transportasi

Pura ini dikenal sebagai Pura Agung Besakih dan berada di lereng barat daya Gunung Agung pada ketinggian sekitar 1000 meter di atas permukaan laut. Beberapa opsi transportasi yang bisa Anda gunakan untuk mencapai lokasi:

  1. Mobil Pribadi: Ini adalah pilihan yang paling nyaman karena Anda memiliki fleksibilitas untuk mengatur waktu perjalanan dan rutenya. Dari Denpasar, jarak ke Pura terbesar di bali ini sekitar 62 km.
  2. Sewa Mobil atau Motor: Anda juga bisa menyewa mobil atau motor jika tidak memiliki kendaraan pribadi. Beberapa rental mobil menyediakan layanan dengan sopir yang sudah berpengalaman dalam menempuh rute tersebut.
  3. Angkutan Umum: Meskipun lebih langka, ada juga angkutan umum yang menuju ke lokasi Pura. Anda bisa naik bus antar kota atau angkot dari terminal utama seperti Terminal Ubung di Denpasar menuju ke Karangasem dan kemudian melanjutkan perjalanan dengan ojek atau taksi lokal.

Rute perjalanan dari Denpasar ke Pura Besakih biasanya melewati panorama Bukit Jambul yang juga menjadi objek wisata dan daya tarik di Kabupaten Karangasem. Perjalanan ini tidak saja menawarkan keindahan alam tetapi juga sejumlah spot menarik untuk berhenti dan menikmati pemandangan.