Gunung Santri ini sebenarnya adalah sebuah bukit, namun karena bentuknya yang menyerupai gunung, dan posisinya yang memang dikelilingi gugusan gunung memanjang dari arah pantai hingga ke Gunung Gede, maka disebutlah dengan sebutan Gunung Santri.

Di sekitar gunung ini terdapat beberapa perkampungan, di antaranya Lumajang, Beji, Kejangkungan, Gunung Santri, dan Pangsoran. Khusus di kaki bukit kampung Beji terdapat masjid Beji yang merupakan tonggak sejarah kota Cilegon. Masjid ini seusia dengan masjid Banten lama yang telah didirikan sejak zaman kesultanan Banten, namun sayangnya telah dipugar tanpa mempertahankan bentuk aslinya.

Walaupun bukan gunung sebenarnya, mendaki bukit yang satu ini tetap membutuhkan tenaga ekstra sekaligus stamina prima. Jalur pendakiannya melewati anak tangga sepanjang 600 meter dengan jalan yang berliku, dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Makam di Puncak Gunung Santri

Meskipun Medan yang ditempuh cukup berat, ini bukanlah penghalang bagi para pengunjung untuk tetap berziarah. Alasannya, di puncak gunung tersebut terdapat beberapa makan para pemuka agama islam dengan keilmuan yang tinggi.

Yang pertama adalah makam Syeikh Muhammad Sholeh bin Abdurrohman yang wafat pada tahun 1550 Masehi/958 Hijriah di usia 76 tahun. Semasa hidupnya, Syeikh Muhammad Sholeh dikenal sangat sederhana dengan hidup bertani. Selepas berguru pada Sunan Ampel, ia menjadi seorang ulama yang memiliki kesabaran tinggi sekaligus menduduki derajat kewalian. Selain berdakwah menyebarkan agama islam, ia pun bertugas mengawal serta melindungi Sultan Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati.

Selain makam tersebut, di puncak Gunung Santri juga terdapat Makam Syeikh Maulana Malik Isroil bin Abul Hasan Asy Syadzili yang wafat pada tahun 1435 M. Beliau adalah ulama yang berasal dari Turki dan diutus oleh Sultan Muhammad I sebagai anggota wali songo pertama yang menyebarkan agama islam di daerah Cilegon, Banten. Selain dikenal sebagai ulama dan ahli tata negara, Syeikh Maulana Malik Isroil juga merupakan guru besar Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah), Sunan Giri (Maulana ‘Ainul Yaqin), serta Sunan Demak (Raden Fatah). Ketiganya pada saat itu dididik sebagai persiapan menjadi raja.

Yang terakhir, di puncak gunung ini juga terdapat makam seorang ulama asal Persia (Iran) bernama Maulana Muhammad Ali Akbar yang terkenal ahli dalam bidang pertanian sekaligus pengobatan, serta menyebarkan ajaran islam di Jawa Tengah. Makam-makam tersebut pada umumnya ramai dikunjungi peziarah pada bulan Maulid, Ramadhan, selepas idul fitri dan menjelang musim haji.

| Baca : Masjid Al Jabbar Bandung: Arsitektur Megah Bertaburan Sejarah dan Kecanggihan

Mata Pencaharian Penduduk Sekitar dan Lahan Sedekah

Keberadaan makam waliullah di puncak Gunung Santri merupakan keuntungan tersendiri bagi penduduk setempat. Kebanyakan penduduk mengandalkan mata pencahariannya dengan berdagang berjajar dari mulai pintu masuk hingga ke puncak gunung. Umumnya mereka menjajakan makanan dan minuman, seperti nasi rames, mie instan, bahkan kedai kopi dan juga warung-warung yang menjual makanan khas seperti rempeyek. Begitu juga dengan pedagang yang menjajakan suvenir Gunung jati dari mulai kaos, kopiah, dan sebagainya, hingga yang menjual air ziarah.

| Baca : 6 Destinasi Wisata Ziarah di Banten yang Paling Populer 2025

Selain itu, sepanjang jalan menuju puncak Gunung Santri juga dipadati puluhan pengemis serta kotak amal. Ada yang ditujukan bagi anak yatim, pembuatan masjid, hingga bagi pengurusan penziarahan. Tentu ini peluang besar beramal bagi para pengunjung untuk menebar sodakoh, sekaligus menanam pohon surga.