Kampung Batik Semarang Pusat Batik Asli Semarang

Kampung Batik Semarang Pusat Batik Asli Semarang

Jika Anda telah pergi ke Kampung Batik Laweyan Solo, suasana perkampungan batik di Kampung Batik Semarang mungkin tidak selengkap di Kampung Batik Laweyan Solo. Namun, di kedua tempat tersebut, Anda akan menemukan hal yang sama: batik, belajar membatik, dan sejarah batik.

Kampung Batik Semarang berada di dekat pusat kota Semarang. Jika Anda dari Pasar Johar, Anda dapat pergi ke Jalan Patimura atau Jalan Dr Cipto. Jika Anda dari Simpang Lima, Anda dapat pergi ke Jalan MT Haryono dan terus ke Pasar Johar sampai Anda sampai Bundaran Bubakan. Sebelum memasuki Jalan Patimura, Anda akan melihat Hotel Djelita di sebelah kiri Anda. Di sebelah kirinya, ada gapura besar dengan tulisan “Jalan Batik”.

| Baca : Semarang Orkestra Budaya Timur Dan Barat

Sebelum terbakar pada tahun 1942, Kampung Batik Semarang sempat makmur. Itu masih dalam masa pendudukan Jepang. Sejak saat itu, Kampung Batik Semarang tampaknya telah kehilangan semangatnya. Pada awal tahun 1980, ada upaya lain untuk menghidupkan kembali Kampung Batik Semarang, tetapi itu gagal dan kembali tenggelam. Kegagalan ini pasti disebabkan oleh banyak faktor. Sampai pada tahun 2006, Kampung Batik Semarang mulai bangkit lagi.

Pada awalnya, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Semarang, yang dipimpin oleh Ny. Sinto Sukawi, memiliki tujuan untuk menghidupkan kembali batik khas Semarangan. Rupanya, istri Wali Kota Semarang saat itu menghadapi tantangan untuk mengembalikan reputasi batik Semarangan yang hebat. Eko Hariyanto, salah satu orang yang membantu menghidupkan kembali Kampung Batik Semarang, mengatakan, “Maka, serangkaian pelatihan pun dilakukan dengan peserta warga yang memiliki kemauan besar untuk belajar membatik.”

| Baca : Kota Lama Semarang Kawasan Bergaya Eropa di Semarang

Setelah kursus, banyak peserta yang berhasil menguasai teknik membatik. Beberapa di antaranya bahkan sudah berani memulai bisnis mereka sendiri. Saat itu, Eko Haryanto masih menganggur bersama istri Iin W Indah. sambil terus belajar tentang cara membuat dan mengembangkan batik, baik melalui studi banding atau bertanya pada ahlinya Keluarga ini bertekad untuk ikut melestarikan batik Semarang.

Modal utama kami adalah kemauan kuat; soal modal finansial dan kemampuan membatik bisa dicari dan dipelajari. Kami pada awalnya sama sekali tidak memiliki kemampuan membatik dan tidak punya modal finansial. Saat ditemui di rumahnya yang berfungsi sebagai ruang kerja dan pameran, Eko mengatakan bahwa dengan kemauan kuat dan kesabaran untuk terus berusaha mengembangkan batik Semarang ini, setidaknya sekarang sudah terlihat kemajuan, meskipun masih banyak yang harus ditingkatkan.

| Baca : 16 Obyek Wisata Terfavorit Di Lombok

Eko mengatakan bahwa saat ini ada empat pengrajin batik di Kampung Batik Semarang. Di Semarang secara keseluruhan, ada sekitar 20 pengrajin batik motif Semarangan, dengan sekitar 600 motif batik khas Semarangan yang dibuat; namun, beberapa bisnis memiliki lebih dari 10 karyawan.

Seperti batik Pekalongan, motif utamanya adalah flora dan fauna. Namun, seiring berjalannya waktu, batik Semarangan lebih banyak dipengaruhi oleh budaya Tiongkok, sedangkan batik Pekalongan lebih banyak dipengaruhi oleh budaya Belanda. Perpaduan warna yang digunakan adalah perbedaan lain yang jelas. Motif yang menggambarkan Kota Semarang juga merupakan ciri khas batik Semarangan. Koordinator perajin batik Semarangan ini menambahkan, “Seperti Gedung Lawang Sewu, Tugu Muda, dan buah asam.”

| Baca : Danau Sentani Wajah Spektakuler Papua

Eko berharap Batik Semarang akan menjadi lebih populer seperti halnya kuliner Semarang, yang sudah sangat terkenal dengan lumpia, bandeng presto, dan wingko babat, antara lain. Akibatnya, dia selalu berusaha mengikuti banyak pameran dan promosi. Saya berharap Kampung Batik Semarang, seperti kampung batik lainnya di Semarang, dapat menjadi salah satu tujuan wisata Semarang.

Orang-orang yang pergi ke Semarang pasti ingin membeli oleh-oleh lokal, dan batik adalah salah satu yang paling dicari. Selain itu, sebagian besar wisatawan malah mencari batik di Pekalongan atau Solo. Menurut alumni Manajemen Informatika Unisbank ini, pengunjung akan lebih memilih ke sini jika mereka sudah mengenal Kampung Batik Semarang.

Eko juga berharap pemerintah akan membantu memperluas Kampung Batik Semarang lebih lanjut, terutama untuk menyambut tahun kunjungan wisata Jawa Tengah: “Keinginan saya, Kampung Batik Semarang ini menjadi sentra batik di Semarang.” karena orang-orang yang mencari batik datang ke sini. apakah itu batik dari Semarang atau dari kota lain. Dia berharap Batik Semarang harus kuat dulu untuk tidak hanya menjadi penonton.

Leave A Comment