Kota Ende Di Flores Tempat Pengasingan Soekarno Sekaligus Tempat Lahir Pancasila

Kota Ende Di Flores Tempat Pengasingan Soekarno Sekaligus Tempat Lahir Pancasila

Dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, Soekarno – Proklamator Kemerdekaan Indonesia dan Presiden Republik Indonesia pertama – pernah diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Ende di pulau Flores. Selama empat tahun, – acara sebelum Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 – Soekarno diasingkan dari tahun 1934 sampai 1938, karena kegiatan politiknya yang dianggap sebagai ancaman bagi Pemerintah Hindia Belanda.

Setibanya di kota kecil yang terpencil itu, Soekarno pada awalnya tidak punya tempat tinggal. Akhirnya ia menemukan sebuah rumah kontrakan yang menghadap ke timur,  memiliki gaya arsitektur Belanda dan dimiliki oleh Haji Abdulah Ambuwaru. Pada tahun 1954, ketika Soekarno menjadi presiden pertama di Indonesia, soekarno meresmikan rumah tersebut sebagai museum.

Rumah Pengasingan Soekarno

Saat ini, tempat tinggal yang sederhana namun memiliki nilai sejarah yang signifikan di Ende dikenal sebagai “Rumah Pengasingan Soekarno”dan terbuka untuk umum.

Museum ini masih menyimpan perabotan dan barang yang dimiliki dan digunakan oleh Sukarno selama berada di Ende. Pengunjung museum akan terinspirasi selama berkunjung di sini, mengenang perjuangan dan visi Sukarno yang berkaitan dengan prinsip dasar untuk membangun Republik Indonesia, yang di rumah ini dapat dilihat foto-foto lama, kliping kertas, kutipan orasi dan Pameran yang sudah usang.

Sukarno memanfaatkan empat tahun pengasingannya untuk merenungkan visinya tentang Indonesia yang demokratis dan independen, yang akan membentang dari Sabang di Sumatra sampai ke Papua. Dia mengundang penduduk setempat untuk ikut serta dalam diskusi. Dan untuk lebih mudah berkomunikasi dengan orang-orang di lingkungan sosial, Sukarno menulis selusin drama teater dan mendirikan Toneel Club Kelimutu yang melibatkan penduduk setempat dalam produksi yang dilakukan di Gedung Immaculata.

Sekitar 700 meter dari rumah Soekarno, terdapat Pohon Sukun yang langsung berhadapan dengan Pantai Ende. Diketahui bahwa Soekarno sering duduk di sini untuk merenung di bawah pohon sambil membayangkan sebuah negara kesatuan yang akan disebut Indonesia. Presiden Pertama Indonesia mengklaim bahwa pada saat itulah konsep Pancasila menjadi fondasi filosofis Republik Indonesia. Pancasila sejak diakui dan diterima sebagai 5 Prinsip di mana Negara dan Negara Indonesia didirikan.

Saat ini, Kelahiran Pancasila diperingati setiap tahun pada tanggal 1 Juni, yang juga merupakan hari libur nasional.

| Baca : Harga Tiket Masuk Lopo Pantai Oesapa Kupang

Apa itu Pancasila?

Terdiri dari dua kata Jawa kuno yang aslinya berasal dari bahasa Sanskerta: “pañca” (“lima”) dan “sīla” (“prinsip”), Pancasila terdiri dari lima prinsip yang saling terkait dan saling tidak terpisahkan satu sama lain, yaitu:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan, Dalam Permusyawaratan Perwakilan
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Indonesia adalah negara multikultural, negara yang sangat beragam terdiri dari lebih dari 17.000 pulau, ratusan kelompok etnis dengan bahasa, budaya, agama dan cara hidup mereka yang berbeda. Bapak-bapak pendiri Indonesia memutuskan bahwa Ideologi Negara harus mencakup dan melindungi keseluruhan spektrum masyarakat Indonesia, di mana konsensus untuk kebaikan bersama harus diupayakan, dan keadilan dilayani dan dipenuhi. Prinsip-prinsip ini dijunjung tinggi dalam Pancasila. Dan juga berdasarkan prinsip-prinsip ini, Motto Nasional Indonesia menjadi “Bhinneka Tunggal Ika”, artinya: Kita Banyak tapi kita adalah Satu.

Saat ini, sebuah patung Soekarno yang duduk di bawah pohon sukun dan merenung sambil memandangi Pantai Ende yang indah dapat dilihat di tempat yang sama. Meskipun pohon sukun asli diambil pada tahun 1960, namun pohon lain ditanam pada tahun 1980 yang sekali lagi tidak hanya melindungi patung tersebut tetapi juga nilai historis tempat ini.

Kawasan ini sekarang dikenal sebagai Taman Renungan Bung Karno dimana setiap orang juga bisa duduk dan merenung seperti presiden pertama Indonesia.

| Baca : 5 Kawah Di Indonesia Yang Paling Indah

Mencapai Lokasi

Bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende dilayani oleh Garuda Indonesia, Kalstar Aviation, Wings Air, Susi Air, dan TransNusa Air. Ada penerbangan yang menghubungkan Ende dengan Denpasar di Bali, Kupang (ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur), dan Labuan Bajo.

Transportasi darat ke kota-kota barat dan timur di Flores juga beroperasi. Ende memiliki dua stasiun bis antar kota, yaitu Wolowona untuk bus ke kota-kota timur seperti Moni, Maumere, dan Larantuka; Dan Ndao untuk bus ke kota-kota barat seperti Bajawa, dan Danau Kelimutu.

Leave A Comment