Bayangkan sebuah pantai di mana pasir putih atau hitam yang biasa Anda kenal sirna, digantikan oleh hamparan miliaran batu koral hitam yang licin dan berkilau ditimpa matahari. Saat Anda melangkahkan kaki di atasnya, bebatuan itu tidak diam. Mereka “bernyanyi”, mengeluarkan bunyi gemericik sendu seolah sedang menangis. Inilah sambutan pertama Anda di Desa Wisata Tablanusu, sebuah surga tersembunyi di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, di mana alam, sejarah Perang Dunia II, dan kearifan lokal Suku Tepara berpadu dalam harmoni yang magis.
Ringkasan Cepat (Quick Facts)
| Kategori | Detail Informasi |
| Lokasi | Distrik Depapre, Kab. Jayapura, Papua (Wilayah Adat Entiyebo & Waiya). |
| Julukan | Kampung Batu Menangis (The Village of Crying Stones). |
| Luas Area | ± 230,5 Hektar. |
| Keunikan | Tanah desa & pantai tertutup koral hitam, situs sejarah PD II, Tradisi Sasi. |
| Tiket Masuk | Mulai Rp 10.000,- (Tunai). |
| Jam Buka | 08.00 – 22.00 WIT (Setiap Hari). |
| Akomodasi | Suwae Resort (Rp 450rb-650rb), Homestay, Camping Ground. |
| Kontak (PIC) | Pokdarwis (0852-4442-4688), Suwae Resort (Bpk. Habel Bouway). |
| Waktu Tempuh | ± 1,5 – 2 Jam dari Bandara Sentani. |
Fenomena Alam: Mengapa Batu Ini “Menangis”?
Tablanusu bukan sekadar desa nelayan; ia adalah fenomena geologis. Keajaiban desa seluas 230,5 hektar ini terletak pada “lantai” alaminya. Sejauh mata memandang—dari halaman rumah warga, jalan setapak desa, hingga bibir pantai yang mencium ombak—semuanya tertutup oleh batu koral hitam (kerikil) berukuran kecil sekitar 1 hingga 4 sentimeter.
Bebatuan ini bersih, tumpul, dan licin. Julukan “Batu Menangis” lahir dari pengalaman auditori yang unik. Ketika Anda berjalan di atasnya, gesekan antar-batu menghasilkan bunyi krek-krek atau gemericik yang nyaring, menyerupai isak tangis. Bagi pendatang, suara ini adalah musik alam yang eksotis. Namun, bagi warga lokal Suku Tepara, bebatuan ini adalah bagian dari identitas. Mereka memiliki keahlian turun-temurun untuk berjalan dengan teknik khusus—setengah berjinjit dan meluncur—sehingga langkah mereka nyaris tanpa suara. Dahulu, kemampuan ini vital untuk mengintai musuh atau berburu tanpa ketahuan.
Wellness Tourism (Wisata Kesehatan):
Di balik bunyinya, hamparan batu ini menyimpan khasiat kesehatan. Wisatawan sering kali melepas alas kaki mereka dan berjalan telanjang kaki menyusuri pantai. Tekstur batu yang halus namun kokoh memberikan efek pijat refleksi alami yang melancarkan peredaran darah. Ini adalah terapi gratis yang disediakan oleh ibu bumi Papua.
Lorong Waktu: Dari “Matahari Terbenam” hingga Jenderal MacArthur
Nama Tablanusu diambil dari gabungan dua kata bahasa setempat: “Tepara” (nama suku asli) dan “Onusu” (matahari terbenam). Secara puitis, Tablanusu berarti “Tempat matahari terbenam bagi Suku Tepara”. Lokasi desa saat ini menurut sejarah lisan tetua adat, Bapak Petrus Sawulena, adalah lokasi permukiman ketiga setelah leluhur mereka berpindah-pindah mencari tempat terbaik.
Namun, Tablanusu juga memegang peran krusial dalam sejarah dunia modern. Pada masa Perang Dunia II, desa yang tenang ini berubah menjadi pangkalan militer strategis tentara Sekutu di kawasan Pasifik Barat Daya. Di bawah komando Jenderal Douglas MacArthur, Tablanusu menjadi dropping area logistik dan basis pertahanan.
Hingga kini, desa ini menjadi museum terbuka. Anda tidak perlu masuk gedung kaca untuk melihat sejarah; cukup berjalan keliling desa, dan Anda akan menemukan:
Sisa Tank Perang: Rangka besi tua yang menjadi saksi bisu pertempuran pasifik.
Tangki Bahan Bakar: Wadah raksasa penyuplai energi mesin perang sekutu.
Dermaga Tua & Landasan Meriam: Bukti infrastruktur militer masa lampau.
Prasasti Religi: Sebuah monumen salib dan makam misionaris yang menandai masuknya Injil ke wilayah ini pada awal tahun 1900-an, sebuah titik balik spiritual bagi masyarakat setempat.
Aktivitas Wisata: Menyelami Surga Pasifik
Tablanusu menawarkan konsep One Stop Destination. Anda tidak hanya duduk diam; ada petualangan yang menanti di setiap sudutnya.
A. Wisata Bahari & Bawah Laut (Underwater Paradise)
Perairan di Teluk Tablanusu terkenal tenang karena terlindung, dengan gradasi warna air dari biru tua ke hijau toska jernih.
Snorkeling & Diving: Lokasi ini telah terverifikasi sebagai spot diving unggulan yang pernah diliput media nasional. Terumbu karangnya masih sangat sehat. Jika beruntung, penyelam dapat berpapasan dengan ikan hiu sirip hitam di habitat alaminya.
Wisata Malam Bersama Nelayan: Untuk pengalaman autentik, cobalah ikut nelayan lokal melaut di malam hari (saat bulan gelap). Mereka menggunakan teknik tradisional: menyelam bebas (freedive) ke dasar laut hanya bermodalkan senter kedap air dan tombak untuk menangkap ikan. Adrenalinnya luar biasa!
Island Hopping: Sewalah perahu nelayan untuk menyeberang ke dua pulau kecil tak berpenghuni di dekat desa. Pulau ini adalah habitat asli Anggrek Endemik Papua yang langka. Dari puncaknya, Anda bisa melihat panorama Samudra Pasifik yang membentang luas.
B. Wisata Alam & Danau
Bagi yang lebih suka daratan, tersedia jalur trekking ringan menuju hutan desa. Di sini, Anda bisa melakukan birdwatching (pengamatan burung), mencari Cendrawasih atau burung hutan lainnya. Tak jauh dari situ, terdapat danau air tawar alami yang digunakan warga untuk budidaya ikan mujair dan ikan mas, menawarkan suasana yang kontras dengan pantai.
Kearifan Lokal: Hukum Adat Sang Penjaga Laut
Kelestarian alam Tablanusu bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari hukum adat yang ketat. Masyarakat mempraktikkan tradisi Sasi atau di sini dikenal dengan Tiyatiki.
Ritual ini melibatkan penancapan dahan kayu besi pantai yang disebut Suang Teko di area laut tertentu (biasanya kawasan terumbu karang). Selama Suang Teko tertancap, area tersebut haram untuk diambil hasil lautnya. Ini memberi waktu bagi ikan untuk bertelur dan terumbu karang untuk memulihkan diri. Ketika masa Sasi dibuka (panen raya), hasil laut akan melimpah ruah dan dinikmati bersama. Wisatawan diajarkan untuk menghormati “zona larangan” ini, sebuah pelajaran berharga tentang konservasi berbasis masyarakat.
Fasilitas & Akomodasi
Meski berstatus desa, fasilitas di Tablanusu sudah dikelola cukup profesional,
Penginapan (Suwae Resort): Bagi yang menginginkan kenyamanan, Suwae Resort yang dikelola Bapak Habel Bouway menyediakan kamar tipe Standard hingga Deluxe dengan kisaran harga Rp 450.000 – Rp 650.000 per malam. Lokasinya beachfront, langsung menghadap laut.
Homestay & Camping: Tersedia homestay di rumah warga untuk pengalaman interaktif. Bagi petualang keluarga, area pinggir pantai sangat aman dan nyaman untuk mendirikan tenda (camping), dengan biaya sewa lahan/tenda sekitar Rp 100.000.
Fasilitas Umum: Terdapat 10 unit toilet umum/kamar bilas (tarif Rp 2.000), balai pertemuan, area parkir luas yang mampu menampung bus, serta Gazebo (pondok santai) di sepanjang pantai dengan sewa sekitar Rp 100.000.
Kuliner: Jangan pulang sebelum mencicipi Ikan Bakar segar hasil tangkapan hari itu, disantap dengan Papeda Kuah Kuning yang gurih. Bagi yang bernyali, cobalah Sate Ulat Sagu, sumber protein tinggi kebanggaan Papua.
Panduan Rute & Transportasi dari Jayapura
Perjalanan menuju Tablanusu adalah bagian dari petualangan itu sendiri.
Jarak: Sekitar 33 km dari Bandara Sentani atau 60 km dari Kota Jayapura.
Total Waktu: 1,5 hingga 2 jam.
Opsi Rute Terbaik (The Scenic Route):
Darat (Jayapura/Sentani ➔ Pelabuhan Depapre): Naik mobil sewaan atau taksi bandara menuju Dermaga Depapre. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam melewati jalan berliku dengan pemandangan perbukitan hijau.
Laut (Pelabuhan Depapre ➔ Tablanusu): Dari dermaga, sewalah perahu motor tempel (speed boat). Perjalanan sekitar 20–30 menit ini akan menyuguhkan pemandangan tebing karang dan laut biru yang memukau. Ini adalah cara masuk yang paling dramatis dan indah.
Catatan: Jalur darat langsung ke desa tersedia, namun kondisi jalan terkadang menantang (berbatu/tanah), sehingga jalur laut lebih direkomendasikan untuk kenyamanan dan estetika.
Tips Perjalanan (Traveler’s Note)
Bawa Uang Tunai: Belum ada ATM di dalam desa. Transaksi tiket masuk, sewa perahu, dan kuliner mayoritas menggunakan uang tunai (cash).
Alas Kaki: Gunakan sandal gunung atau sepatu air (water shoes) jika belum terbiasa berjalan di atas batu koral, meskipun warga lokal biasa bertelanjang kaki.
Waktu Terbaik: Datanglah pagi hari untuk pencahayaan foto terbaik pada batu hitam yang berkilau, atau sore hari untuk sunset yang magis.
Hormati Adat: Jangan mengambil batu koral untuk dibawa pulang dan patuhi tanda larangan adat (Sasi/Suang Teko) di laut.
FAQ (Pertanyaan Umum)
Berikut adalah pertanyaan yang sering diajukan wisatawan sebelum berkunjung ke Desa Wisata Tablanusu:
1. Apa keunikan utama Pantai Tablanusu yang membedakannya dari pantai lain?
Pantai Tablanusu memiliki fenomena langka di mana permukaannya tidak berpasir, melainkan tertutup hamparan batu koral hitam yang licin dan bersih. Keunikan utamanya adalah “suara” dari batu tersebut; saat diinjak, gesekan antar-batu menghasilkan bunyi gemericik yang menyerupai isak tangis, sehingga desa ini dijuluki “Kampung Batu Menangis”.
2. Bagaimana cara terbaik menuju Tablanusu dari Jayapura atau Sentani?
Rute paling direkomendasikan adalah berkendara sekitar 1 jam dari Bandara Sentani menuju Pelabuhan Depapre. Dari sana, Anda dapat menyewa perahu motor (speed boat) selama 20 menit menuju Tablanusu sembari menikmati pemandangan tebing karang. Tersedia juga jalur darat langsung (total ±2 jam), namun medannya lebih menantang dibandingkan jalur laut.
3. Berapa harga tiket masuk ke kawasan wisata ini?
Harga tiket masuk sangat terjangkau, umumnya mulai dari Rp 10.000 per orang hingga Rp 50.000 (tergantung jenis kendaraan dan jumlah rombongan). Pastikan membawa uang tunai.
4. Apakah tersedia penginapan di Desa Wisata Tablanusu?
Ya, akomodasi cukup lengkap. Tersedia Suwae Resort dengan tarif berkisar Rp 450.000 – Rp 650.000 per malam (tipe Standard hingga Deluxe). Selain itu, terdapat homestay milik warga dan area camping ground di tepi pantai bagi yang menyukai petualangan.
5. Apakah aman bagi anak-anak untuk berenang di pantainya?
Ya, sangat aman. Perairan di Teluk Tablanusu relatif tenang dan ombaknya tidak besar karena posisi teluk yang terlindungi, sehingga cocok untuk aktivitas berenang santai bagi keluarga dan anak-anak.
6. Bisakah mengunjungi situs sejarah Perang Dunia II tanpa pemandu?
Bisa, karena situs-situs seperti sisa tank dan dermaga sekutu terletak di area terbuka desa. Namun, sangat disarankan menggunakan jasa pemandu lokal (warga setempat) agar Anda mendapatkan cerita sejarah yang mendalam dan konteks yang akurat mengenai peninggalan Jenderal MacArthur tersebut.
7. Bagaimana kondisi sinyal seluler di sana?
Sinyal seluler tersedia (terutama provider Telkomsel), namun kekuatannya mungkin tidak secepat atau sekuat di pusat kota. Ini justru menjadi momen yang tepat untuk melakukan detoks digital dan menikmati alam sepenuhnya.
8. Apa itu tradisi Sasi atau Tiyatiki yang ada di Tablanusu?
Sasi atau Tiyatiki adalah hukum adat setempat berupa pelarangan mengambil hasil laut di area tertentu (biasanya ditandai dengan kayu suang teko) dalam kurun waktu tertentu. Tradisi ini dilakukan untuk menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang dan menjamin stok ikan tetap melimpah secara berkelanjutan.
Desa Wisata Tablanusu adalah bukti bahwa Papua menyimpan “harta karun” yang tak ternilai. Di sini, batu pun punya cerita, dan setiap langkah kaki Anda menjadi bagian dari sejarah yang terus hidup.
Artikel Terbaru
Desa Tablanusu di Kabupaten Jayapura : Desa yang Indah dan Unik di Papua
Gunung Padang adalah sebuah situs megalitik yang terletak di wilayah Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Situs kuno ini dikenal sebagai salah satu peninggalan zaman prasejarah yang sangat berharga. Menurut Ramadina dalam analisisnya, Gunung [...]
Sensasi Makan Di Angkringan Tuli Madre Jogja, Jogjakarta seolah tidak pernah habis dalam menyajikan sajian wisata dan tempat makan, selain terkenal dengan wisata rekreasi, di Jogja juga terdapat ratusan tempat makan yang unik dan pastinya [...]
Omah Kayu di Batu, Malang, menawarkan pengalaman unik bagi siapa saja yang ingin melarikan diri dari kepenatan dan polusi kota. Terletak di puncak Gunung Banyak, yang juga berada dalam satu area dengan Paralayang, pertama kali [...]
Pantai Pasir Putih Situbondo adalah salah satu destinasi wisata yang memukau di Jawa Timur, terkenal dengan hamparan pasir putih yang luas dan air laut yang jernih. Terletak di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa, pantai ini [...]
Yogyakarta memiliki kemampuan magis untuk melambatkan waktu. Namun, bagi pelancong dengan jatah cuti terbatas, waktu justru menjadi musuh terbesar. Bagaimana caranya menyerap jiwa kota yang istimewa ini hanya dalam 24 jam tanpa merasa terburu-buru? Jawabannya [...]








