Di jantung Kota Palembang, di mana aroma cuko pempek beradu dengan semilir angin Sungai Musi, berdiri sebuah monumen ketangguhan yang tak lekang oleh zaman. Ia bukan sekadar tumpukan batu bata; ia adalah saksi bisu kejayaan, simbol perlawanan, dan rumah bagi identitas “Wong Palembang”. Inilah Benteng Kuto Besak (BKB), satu-satunya benteng di Nusantara yang dibangun murni oleh tangan-tangan pribumi tanpa campur tangan kolonial.
Ringkasan Cepat (Quick Facts)
| Informasi | Detail |
| Status | Cagar Budaya Nasional (Sejak 2004) |
| Pendiri | Sultan Mahmud Badaruddin I & Sultan Muhammad Bahauddin |
| Masa Pembangunan | 1780 – 1797 (17 Tahun) |
| Material Unik | Batu Bata, Kapur, dan Putih Telur sebagai perekat |
| Dimensi | Panjang 290m, Lebar 180m, Tinggi 9,9m |
| Lokasi | Tepian Sungai Musi, Bukit Kecil, Palembang |
| Tiket Masuk | Rp5.000 (Pelataran/Plaza) |
| Akses Utama | Sangat dekat dengan Jembatan Ampera & Masjid Agung |
Sebuah Cerita tentang Ketangguhan: Sejarah Pembangunan
Langkah sejarah Benteng Kuto Besak bermula dari sebuah visi besar. Pada pertengahan abad ke-18, Sultan Mahmud Badaruddin I menyadari bahwa Kesultanan Palembang Darussalam membutuhkan pusat pertahanan yang lebih modern dan strategis. Namun, baru pada tahun 1780, di bawah pemerintahan cucunya, Sultan Muhammad Bahauddin, mimpi itu mulai diwujudkan dalam bentuk fisik.
Membangun BKB bukanlah perkara semalam. Butuh waktu 17 tahun penuh dedikasi untuk menyelesaikan struktur masif ini. Yang membuatnya legendaris adalah rahasia di balik kekuatannya. Di saat bangsa Eropa menggunakan semen modern, arsitek Kesultanan Palembang memanfaatkan kearifan lokal. Mereka menggunakan campuran batu kapur dari pedalaman Sungai Ogan yang dipadukan dengan putih telur, rebusan tulang, serta kulit hewan sebagai bahan perekat. Hasilnya? Dinding setebal hampir 2 meter yang tetap berdiri kokoh meski telah dihantam meriam Belanda selama berabad-abad.
Pada 21 Februari 1797, benteng ini resmi menjadi “Kuto Besak” (Kota Besar) yang menggantikan “Kuto Lamo”. Ia berfungsi sebagai keraton baru, pusat administrasi, sekaligus benteng pertahanan terakhir yang melindungi keluarga sultan dan rakyat dari invasi asing.
Arsitektur dan Fungsi: Lebih dari Sekadar Dinding
Secara teknis, BKB adalah sebuah “Benteng Pulau”. Pada masa jayanya, lokasi ini dikelilingi oleh empat sungai: Sungai Musi di selatan, Sungai Sekanak di barat, Sungai Tengkuruk di timur, dan Sungai Kapuran di utara. Tata ruang ini menjadikan BKB sebagai benteng pertahanan air yang hampir mustahil ditembus.
Di balik dinding setinggi 9,9 meter tersebut, terdapat ekosistem pusat kekuasaan yang lengkap. Terdapat Balai Agung untuk pertemuan resmi, Keputren sebagai kediaman para putri, serta Paseban untuk menyambut tamu-tamu agung. Namun, setelah jatuhnya Kesultanan ke tangan Belanda pada 1821, benteng ini mengalami pergeseran fungsi menjadi markas militer kolonial yang mereka sebut sebagai Nieuwe Keraton.
Hingga hari ini, BKB masih memegang peran penting. Sejak masa kemerdekaan, area dalamnya dikelola oleh Kodam II/Sriwijaya sebagai kantor Kesehatan Daerah Militer. Meski akses ke bagian terdalam terbatas karena statusnya sebagai instalasi militer aktif, nilai historisnya tetap memancar kuat melalui setiap sudut bastion (selekoh) yang masih tersisa.
Daya Tarik: Pesona Visual dan Ikon Ikan Belida
Datang ke Benteng Kuto Besak adalah tentang menikmati harmoni antara masa lalu dan masa kini. Salah satu magnet terbaru di sini adalah Tugu Ikan Belida. Ikan ini adalah spesies endemik Sungai Musi yang menjadi bahan baku asli pempek sebelum digantikan ikan tenggiri. Tugu setinggi 12 meter ini berdiri gagah menghadap sungai, menyemburkan air layaknya Merlion di Singapura, dan menjadi spot foto wajib bagi setiap pelancong.
Dari pelataran BKB yang luas, mata Anda akan dimanjakan dengan pemandangan Jembatan Ampera yang ikonik. Di sore hari, langit Palembang akan berubah menjadi jingga keunguan, menciptakan siluet megah Ampera di atas aliran Musi yang tenang. Inilah momen golden hour yang dicari para fotografer dunia.
Aktivitas yang Bisa Dilakukan: Menjelajahi Nadi Kota
BKB bukan sekadar tempat duduk diam. Berikut adalah rangkaian aktivitas yang bisa Anda nikmati:
Wisata Air dengan Perahu “Ketek”: Anda bisa menyewa perahu kayu tradisional untuk menyusuri Sungai Musi. Dari tengah sungai, Anda akan melihat betapa kokohnya dinding BKB yang tampak seperti raksasa tidur.
Kuliner Terapung: Tak jauh dari dermaga benteng, kapal-kapal lambung bersandar dan diubah menjadi restoran terapung. Menikmati pempek atau pindang patin sambil merasakan goyangan lembut kapal adalah pengalaman yang tak terlupakan.
Wisata Sejarah di Museum SMB II: Tepat di sebelah benteng, terdapat Museum Sultan Mahmud Badaruddin II yang menyimpan artefak, pakaian adat, dan mata uang kuno kesultanan.
Olahraga Sore & Santai: Plaza BKB yang luas sangat cocok untuk jalan santai atau sekadar duduk menikmati angin sungai di bangku-bangku yang disediakan pemerintah kota.
Benteng Kuto Besak di Malam Hari: Sihir Cahaya Palembang
Jika siang hari menawarkan sejarah, maka malam hari di BKB menawarkan romantisme. Saat matahari terbenam, sihir dimulai. Lampu-lampu Jembatan Ampera menyala terang, lampu taman di Plaza BKB memberikan cahaya kuning hangat, dan tugu ikan belida bersinar cantik.
Malam Minggu di BKB adalah puncak dari dinamika sosial Palembang. Kawasan ini menjadi pusat hiburan rakyat. Anda akan menemui musisi jalanan yang berbakat, berbagai festival budaya seperti Festival Sriwijaya yang sering dipusatkan di sini, hingga pasar malam yang menjajakan pernak-pernik khas. Suasananya begitu hidup, penuh energi, dan sangat mewakili keramahtamahan warga Sumatera Selatan.
Panduan Praktis: Jam Buka, Fasilitas, dan Tiket
Untuk kenyamanan perjalanan Anda, berikut adalah detail teknis yang perlu dicatat:
Jam Buka: Area Plaza atau pelataran luar terbuka 24 jam. Namun, untuk area operasional wisata resmi, biasanya mulai pukul 08.00 hingga 21.00 WIB.
Tiket Masuk: Retribusi area plaza sangat terjangkau, hanya Rp5.000 per orang.
Parkir: Tersedia area parkir luas untuk motor (Rp2.000) dan mobil (Rp5.000).
Fasilitas: Kawasan ini sudah dilengkapi dengan toilet umum, mushola, tempat duduk yang nyaman, dan akses bagi penyandang disabilitas di beberapa titik plaza.
Alamat, Rute, dan Transportasi
Alamat: Jalan Sultan Mahmud Badarudin, Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30113.
Cara Menuju Lokasi:
LRT Palembang: Turun di Stasiun Ampera. Dari sana, Anda cukup berjalan kaki sekitar 5–10 menit menyusuri tepian sungai menuju arah benteng. Ini adalah cara termudah untuk menghindari kemacetan.
Kendaraan Pribadi/Online: Arahkan rute ke Bundaran Air Mancur (Masjid Agung), lalu ambil jalur menuju Jalan Merdeka dan belok ke arah Jalan Dr. AK Gani.
Transportasi Sungai: Jika Anda datang dari daerah Seberang Ulu, Anda bisa naik perahu ketek dan langsung turun di dermaga depan BKB.
Kata Pengunjung
Berdasarkan ulasan di Google Maps, platform review dan media sosial. Berikut adalah poin-poin yang sering disampaikan pengunjung:
Positif: “Pemandangan Jembatan Ampera paling bagus dari sini”, “Tempat nongkrong murah meriah”, “Ikonik dengan tugu ikan belida”, “Seru bisa makan di perahu terapung”.
Negatif: “Hati-hati dengan parkir liar yang harganya tidak wajar”, “Kadang banyak sampah di pinggir sungai”, “Banyak pengamen dan penjual jasa tato yang agak memaksa”, “Area dalam benteng tidak bisa dimasuki karena milik TNI”.
FAQ : Pertanyaan yang Sering Diajukan
Q: Apakah bisa masuk ke dalam Benteng Kuto Besak?
Saat ini, publik hanya bisa mengakses area pelataran luar (plaza) karena area dalam digunakan sebagai markas Kodam II/Sriwijaya dan RS AK Gani. Namun, Anda masih bisa melihat kemegahan dindingnya dari luar.
Q: Berapa harga tiket masuk Benteng Kuto Besak?
Tiket masuk ke area plaza atau pelataran hanya Rp5.000 per orang (harga dapat berubah sewaktu-waktu).
Q: Kapan waktu terbaik berkunjung ke BKB?
Waktu terbaik adalah sore hari menjelang matahari terbenam (sekitar pukul 17.00) agar bisa menikmati sunset dan gemerlap lampu Jembatan Ampera di malam hari.
Q: Benteng Kuto Besak dibangun oleh siapa?
Benteng ini dibangun oleh Kesultanan Palembang, diprakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I dan diselesaikan oleh Sultan Muhammad Bahauddin.
Catatan Akhir: Menjaga Warisan yang Hampir Roboh
Penting untuk mengetahui bahwa BKB saat ini menghadapi tantangan besar. Terdapat isu serius mengenai kondisi fisik benteng yang mulai retak di beberapa titik dan rencana pembangunan rumah sakit militer tujuh lantai yang dikhawatirkan merusak struktur asli. Sebagai wisatawan yang bertanggung jawab, kunjungan Anda bukan hanya soal berfoto, tapi juga memberikan dukungan moral bagi pelestarian cagar budaya ini agar tetap berdiri untuk ratusan tahun ke depan.
Benteng Kuto Besak bukan hanya tempat wisata; ia adalah detak jantung sejarah Palembang. Datanglah, rasakan kekuatannya, dan biarkan dinding-dinding kapur ini membisikkan cerita tentang kejayaan masa lalu yang terus hidup di masa kini.
Artikel Terbaru
Rumah Alam Manado Adventure Park, terletak di Manado, Sulawesi Utara, Indonesia, Diresmikan pada tanggal 18 Juni 2016, Park ini memiliki luas sekitar 12 hektar, memberikan ruang yang cukup luas bagi pengunjung untuk menjelajahi dan melakukan [...]
Air Terjun Penimbungan : Tempat Favorit Para Pendaki Gunung Rinjani di Lombok
Pantai Balad di Kabupaten Sumbawa Barat : Dekat dengan Pusat Kota
Benteng Kuto Besak di Palembang : Ikon Provinsi Sumatera Selatan
Palembang adalah kota di mana setiap detiknya memiliki rasa. Di sini, sejarah tidak hanya tertulis di prasasti, tetapi juga terekam dalam kuah cuko yang pedas, aroma pindang yang semerbak, dan gurihnya santan di pagi hari. [...]
Taman Wisata Punti Kayu Palembang : Hutan Tempat Liburan Menyenangkan di Kota Palembang








