Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) bukan sekadar destinasi wisata; ia adalah laboratorium alam raksasa dan benteng terakhir bagi ekosistem hutan rawa gambut tropis di Kalimantan. Dikenal dunia sebagai pusat rehabilitasi orangutan terbesar, kawasan ini menawarkan wawasan mendalam tentang sejarah konservasi dan kekayaan hayati yang tiada duanya.
Ringkasan Cepat (Quick Facts)
Untuk pembaca yang membutuhkan data teknis secara cepat, berikut adalah ringkasan profil kawasan ini:
| Kategori | Data & Fakta |
| Lokasi Administratif | Kec. Kumai (Kotawaringin Barat) & Kec. Hanau/Seruyan Hilir (Seruyan), Kalimantan Tengah. |
| Luas Wilayah | ± 415.040 Hektare (SK Menhut No. 687/Kpts-II/1996). |
| Status Internasional | Cagar Biosfer UNESCO (1977) & Situs Ramsar (2013). |
| Spesies Kunci | Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), Bekantan (Nasalis larvatus), Beruang Madu. |
| Ekosistem Dominan | Hutan Rawa Gambut, Hutan Kerangas, Hutan Mangrove, Hutan Tropika Dataran Rendah. |
| Akses Utama | Sungai Sekonyer via Pelabuhan Kumai (menggunakan Klotok). |
| Waktu Terbaik | Juni – September (Musim Kemarau) untuk peluang melihat orangutan lebih tinggi. |
| Suhu Rata-rata | 25°C – 27°C dengan kelembaban 79-90%. |
| Pengelola | Balai Taman Nasional Tanjung Puting (KLHK). |
Profil Kawasan: Identitas Sang “Amazon Indonesia”
Secara administratif dan geografis, Tanjung Puting memegang peran vital dalam peta konservasi Indonesia.
Lokasi Administratif: Terletak di semenanjung barat daya Kalimantan Tengah, meliputi Kecamatan Kumai di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kecamatan Hanau, Danau Sembuluh, serta Seruyan Hilir di Kabupaten Seruyan.
Luas Wilayah: Mengacu pada SK Menteri Kehutanan No. 687/Kpts-II/1996, luas total kawasan ini adalah 415.040 hektare. Luas ini setara dengan luas negara Singapura dikalikan lima.
Status Global:
Cagar Biosfer (UNESCO): Ditetapkan sejak tahun 1977.
Situs Ramsar: Diakui pada 2013 sebagai lahan basah yang memiliki arti penting internasional.
Pengelola: Balai Taman Nasional Tanjung Puting (Unit Pelaksana Teknis di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan/KLHK).
Jejak Sejarah: Dari Kolonial hingga Konservasi Modern
Sejarah Tanjung Puting adalah narasi panjang tentang upaya manusia melindungi alam dari kepunahan.

T.N.Tanjung Puting – Kab. Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah | Google Map/Kontributor Vicente Monzó
Era Hindia Belanda (1930-an)
Perlindungan kawasan ini bermula pada tahun 1937, ketika Pemerintah Hindia Belanda menetapkannya sebagai Suaka Margasatwa Sampit (luas awal 205.000 ha). Tujuannya spesifik: melindungi Orangutan dan Bekantan yang sudah terancam sejak masa itu.
Era Kedatangan Dr. Biruté Galdikas (1971)
Tahun 1971 menjadi titik balik. Dr. Biruté Mary Galdikas, didukung oleh mentornya Louis Leakey dan National Geographic Society, mendirikan Camp Leakey. Camp ini menjadi pusat penelitian orangutan tertua di dunia yang masih aktif hingga kini, mengubah wajah Tanjung Puting dari hutan belantara tak bernama menjadi pusat perhatian sains global.
Penetapan Taman Nasional (1980-an – 1996)
Status kawasan terus meningkat seiring waktu:
1982: Dinyatakan sebagai calon Taman Nasional.
1996: Resmi dikukuhkan sebagai Taman Nasional dengan penambahan luas area dari eks Hutan Produksi dan kawasan perairan sekitarnya.
Ragam Ekosistem: Mozaik Hutan Tropis
Tanjung Puting memiliki zonasi ekosistem yang unik, mulai dari tepi laut hingga pedalaman. Keanekaragaman ini menciptakan habitat berlapis bagi satwa liar.
A. Hutan Rawa Gambut (Peat Swamp Forest)
Ini adalah ekosistem dominan di Tanjung Puting.
Karakteristik: Tanah berupa tumpukan bahan organik (gambut) yang basah dan asam.
Fenomena Air Hitam: Air sungai di kawasan ini berwarna merah kecokelatan atau hitam pekat (black water). Warna ini bukan polusi, melainkan zat tannin alami yang larut dari rawa gambut, berfungsi mencegah bakteri dan mengawetkan materi organik.
Vegetasi: Pohon dengan akar lutut, akar panggung, dan akar napas (pneumatofor) untuk bernapas di tanah yang tergenang.
B. Hutan Kerangas (Heath Forest)
Berasal dari bahasa Iban yang berarti “tanah yang tidak bisa ditanami padi”.
Karakteristik: Tanah pasir putih (podsol) yang sangat miskin hara dan bersifat asam.
Vegetasi Unik: Karena miskin nutrisi tanah, tumbuhan di sini berevolusi menjadi karnivora. Anda akan menemukan hamparan Kantong Semar (Nepenthes) yang memangsa serangga untuk mendapatkan nitrogen.
C. Hutan Mangrove & Nipah
Terletak di pesisir dan muara sungai. Formasi tumbuhan Nipah (Nypa fruticans) tumbuh meluas ke pedalaman sejauh pasang surut air laut memengaruhi sungai, menciptakan koridor hijau yang menyambut wisatawan di Sungai Sekonyer.
D. Hutan Tropika Dataran Rendah
Terdapat di tanah mineral yang lebih kering dan subur, ditumbuhi oleh pepohonan raksasa dari famili Dipterocarpaceae (Meranti-merantian).
Kekayaan Flora dan Fauna (Biodiversitas)
Sebagai “Ibukota Orangutan Dunia”, keanekaragaman hayati di sini sangat tinggi dan memiliki nilai konservasi (High Conservation Value).
Fauna: Kerajaan Primata
Tanjung Puting adalah rumah bagi 38 jenis mamalia, dengan primata sebagai penghuni paling mencolok:
Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus): Spesies flagship (unggulan). Di sini terdapat populasi liar dan ex-captive (rehabilitasi) yang hidup berdampingan.
Bekantan (Nasalis larvatus): Monyet berhidung panjang endemik Kalimantan. Hidup berkelompok di pohon-pohon tepi sungai dan mahir berenang.
Owa Kalimantan (Hylobates albibarbis): Kera kecil akrobatik yang suaranya sering terdengar bersahutan di pagi hari.
Beruang Madu (Helarctos malayanus): Beruang terkecil di dunia, sering meninggalkan jejak cakar di batang pohon ironwood.
Satwa Lain: Buaya Sinyulong (Tomistoma schlegeli)—buaya pemalu bermoncong sumpit, Buaya Muara, Macan Dahan, dan lebih dari 200 spesies burung termasuk Storm’s Stork (Bangau Sandang Lawe) yang langka.
Flora: Raksasa Rimba
Hutan ini menyimpan pohon-pohon bernilai komersial tinggi dan dilindungi:
Ulin (Eusideroxylon zwageri): Dikenal sebagai Kayu Besi, pohon yang sangat keras dan tahan air.
Ramin (Gonystylus bancanus): Kayu mewah yang habitat utamanya di rawa gambut.
Jelutung (Dyera costulata): Getahnya dahulu disadap untuk bahan permen karet.
Anggrek Hitam (Coelogyne pandurata): Flora maskot Kalimantan Timur yang juga dapat ditemukan di pedalaman hutan ini.
The Journey – Menyusuri Sungai Sekonyer
Perjalanan ke Tanjung Puting adalah sebuah petualangan “Liveaboard” klasik. Berikut adalah gambaran pengalaman (Experience) yang akan Anda rasakan hari demi hari.
Moda Transportasi: Klotok
Lupakan hotel berbintang. Di sini, rumah Anda adalah Klotok, perahu kayu tradisional bertingkat dua. Dek bawah untuk kru dan dapur, dek atas untuk tamu bersantai dan tidur.
Fasilitas: Kasur matras, kelambu (wajib!), toilet standar barat, dan area makan.
Sensasi: Makan siang ditemani angin sungai, tidur ditemani suara jangkrik, dan bangun disambut kabut sungai yang mistis.
Tiga Camp Legendaris (Feeding Stations)
Wisatawan biasanya mengunjungi tiga pos rehabilitasi utama untuk menyaksikan feeding time:
- Tanjung Harapan (Feeding Pukul 15.00 WIB):Pos pertama yang dicapai. Di sini, Anda akan melakukan trekking ringan. Seringkali menjadi perjumpaan pertama wisatawan dengan orangutan semi-liar. Di dekat sini juga terdapat desa wisata Tanjung Harapan.
- Pondok Tanggui (Feeding Pukul 09.00 WIB):Pusat rehabilitasi untuk orangutan remaja/ adolescent. Lokasi ini dicapai setelah menginap malam pertama di sungai. Jalur trekkingnya datar dan dikelilingi hutan yang cukup rapat.
- Camp Leakey (Feeding Pukul 14.00 WIB):The highlight of the trip. Camp Leakey adalah pusat riset sejarah. Untuk mencapainya, klotok akan masuk ke anak sungai yang lebih sempit dengan air hitam pekat. Jalur trekking di sini sekitar 1,5 km. Ini adalah tempat terbaik melihat interaksi hierarki sosial orangutan, mulai dari induk yang menggendong bayi hingga Alpha Male yang turun dari kanopi dengan wibawa.
Panduan Praktis & Etika
Untuk memastikan perjalanan Anda aman dan bertanggung jawab, perhatikan panduan berikut berdasarkan rekomendasi expert dan aturan Balai Taman Nasional.
Cara Menuju Lokasi
Terbang: Tujuan Bandara Iskandar (PKN) di Pangkalan Bun. Maskapai: Nam Air, Wings Air (dari Jakarta, Surabaya, Semarang).
Darat: Naik taksi/jemputan travel (20 menit) ke Pelabuhan Kumai.
Sungai: Naik Klotok yang sudah dipesan sebelumnya.
Pilihan Trip: Open vs Private
Open Trip (Rp 2,5jt – 3jt/org): Hemat, cocok untuk solo traveler, berbagi kapal dengan orang asing (max 8-12 orang), jadwal fix (biasanya Jumat-Minggu).
Private Trip (Harga bervariasi): Privasi total, jadwal fleksibel, menu makanan bisa request, cocok untuk keluarga/fotografer.
Packing List Wajib (Expert Tips)
Lotion Anti Nyamuk: Mutlak diperlukan. Nyamuk rawa sangat ganas.
Pakaian: Bahan quick-dry, warna alam (hijau/coklat/krem). Hindari warna mencolok.
Alas Kaki: Sepatu trekking atau sandal gunung tertutup yang nyaman.
Kamera: Lensa tele (zoom) sangat disarankan karena jarak aman dengan satwa min. 10 meter.
Uang Tunai: Tidak ada ATM di dalam hutan. Siapkan uang kecil untuk tips kru klotok.
Sistem Reservasi (SITANPAN)
Gunakan aplikasi atau website SITANPAN (Sistem Informasi Taman Nasional Tanjung Puting) untuk booking tiket masuk dan memantau kuota pengunjung harian. Ini penting terutama di high season (Juli-Agustus).
Apa Kata Mereka?
Berdasarkan agregasi ratusan ulasan wisatawan di Google Maps dan platform travel, berikut adalah sentimen pengunjung:
👍 Yang Paling Disukai (Pros):
“Pengalaman Spiritual”: Banyak ulasan menyebut momen melihat orangutan di alam liar sebagai pengalaman yang mengubah hidup dan sangat emosional.
“Klotok Crew”: Keramahan kru kapal dan kelezatan masakan koki kapal sering mendapat bintang 5. Masakan sederhana terasa mewah di tengah hutan.
“Detox Digital”: Ketiadaan sinyal di sebagian besar area (terutama Camp Leakey) justru disyukuri sebagai momen untuk benar-benar terhubung dengan alam.
👎 Tantangan (Cons):
“Panas & Lembab”: Keluhan utama adalah cuaca yang sangat menguras keringat.
“Serangga”: Gigitan nyamuk dan serangga hutan menjadi keluhan bagi yang tidak siap membawa lotion.
“Toilet”: Beberapa wisatawan mengeluhkan standar kebersihan toilet di beberapa klotok tua (penting untuk memilih operator terpercaya).
FAQ: People Also Ask
Q1: Kapan waktu terbaik mengunjungi Tanjung Puting?
A: Juni hingga September (Musim Kemarau). Pada masa ini, buah-buahan di dalam hutan alami berkurang, sehingga orangutan lebih rajin turun ke feeding station, meningkatkan peluang Anda melihat mereka. Namun, sungai mungkin agak surut.
Q2: Berapa biaya ke Taman Nasional Tanjung Puting?
A: Untuk Open Trip 3H2M, biaya berkisar Rp 2.500.000 – Rp 3.000.000 per orang (WNI). Untuk Private Trip, sewa klotok berkisar Rp 3.000.000 – Rp 5.000.000 per kapal/hari (belum termasuk makan/guide). Tiket masuk WNI sekitar Rp 5.000-10.000/hari, sedangkan WNA Rp 150.000-250.000/hari.
Q3: Apakah aman membawa anak-anak?
A: Aman, namun dengan pengawasan ekstra. Klotok memiliki pagar, tetapi anak-anak harus diawasi. Pastikan anak tahan terhadap cuaca panas dan perjalanan kapal yang lambat. Banyak keluarga menjadikan ini wisata edukasi terbaik.
Q4: Apakah ada sinyal HP di Tanjung Puting?
A: Sinyal (Telkomsel) biasanya kuat di Pelabuhan Kumai dan kadang tertangkap di Tanjung Harapan. Namun, setelah masuk menuju Pondok Tanggui dan Camp Leakey, sinyal akan hilang (blank spot).
Q5: Bolehkah memberi makan orangutan?
A: Sangat Dilarang. Memberi makan satwa liar dapat mengubah perilaku alami mereka, membuat mereka tergantung pada manusia, dan berisiko menularkan penyakit manusia ke satwa (zoonosis).
Taman Nasional Tanjung Puting bukan sekadar destinasi liburan; ia adalah sebuah perjalanan kembali ke masa lalu, ke paru-paru bumi yang masih bernapas. Menyaksikan tatapan mata orangutan di Camp Leakey atau kerlip kunang-kunang di Sungai Sekonyer akan menumbuhkan kesadaran baru tentang betapa berharganya alam kita.
Borneo memanggil. Siapkan ransel Anda, matikan ponsel Anda, dan biarkan rimba bercerita.
Artikel Terbaru
Taman Nasional Tanjung Puting: Tempat Melepaskan Orang Utan ke Alam Liar
Orchid Forest Cikole, sebuah destinasi wisata alam yang menyuguhkan keindahan flora dan aneka wahana rekreasi, menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin merasakan kesejukan hutan pinus serta keindahan taman anggrek. Terletak di daerah pegunungan dengan [...]
Pantai Pink Lombok atau Pantai Tangsi: Pantai yang sangat Direkomendasikan bagi Backpacker
Pantai Labu di Kabupaten Deli Serdang : Tempat Wisata Alternatif di Sekitar Medan
Pantai Bina Natu Sumba Barat : Lokasi Favorit Berselancar di Nusa Tenggara Timur
Pantai Lumban Silintong Balige : Tempat Berenang Terbaik di Danau Toba








