Pernahkah Anda membayangkan ribuan orang berbaju putih salju membelah kabut di ketinggian 2.000 meter, memikul sesaji emas dan hewan suci menuju kaldera gunung api? Ini bukan sekadar pendakian; ini adalah Mulang Pakelem, sebuah ritual purba yang menjaga napas Pulau Lombok tetap berdenyut.
Quick Facts: Mulang Pakelem di Segara Anak
Lokasi Utama: Danau Segara Anak, Kaldera Gunung Rinjani (2.008 mdpl).
Waktu Pelaksanaan: Purnama Sasih Kelima (Tahunan) atau ritual besar setiap 5-10 tahun.
Esensi Ritual: Melarung logam mulia (Panca Datu) dan hewan suci ke dasar danau.
Tujuan: Memohon hujan, menjaga kesuburan bumi, dan keseimbangan alam (Tri Hita Karana).
Warisan Sejarah: Dilestarikan sejak masa Kerajaan Karangasem abad ke-18.
Panggilan Sang Dewi: Perjalanan Menuju Titik Nol
Bagi pendaki umum, Danau Segara Anak adalah tempat beristirahat yang indah. Namun bagi umat Hindu Lombok, danau ini adalah Mandala suci, singgasana Dewi Anjani. Perjalanan dimulai dengan ritual Mapiuning di Pura-Pura besar seperti Suranadi, memohon izin kepada “Sang Penjaga” sebelum kaki melangkah di jalur terjal Sembalun atau Senaru.
Perjalanan ini adalah bentuk Tapa Yadnya—sebuah pengorbanan fisik yang nyata. Bayangkan suhu ekstrem yang menusuk tulang dan oksigen yang menipis, namun doa-doa tetap dilantunkan tanpa putus. Ritual ini bukan sekadar tontonan, melainkan ujian ketulusan hati manusia di hadapan alam.
Simbolisme Emas dan Nyawa: Mengapa Harus Melarung Pakelem?
Di tepi danau yang biru tenang, suasana magis mulai terasa. Suara genta pendeta memecah keheningan kaldera. Inti dari upacara ini adalah pelarungan Pakelem. Bukan sembarang benda, sesaji yang dilarung meliputi:
Panca Datu: Logam mulia berupa emas, perak, tembaga, besi, dan timah yang dibentuk menyerupai udang, ikan, atau kepiting. Ini adalah simbol pengembalian kekayaan bumi kepada sang pencipta.
Hewan Suci: Ayam selem batu (hitam pekat), itik putih, hingga kambing atau kerbau. Hewan-hewan ini adalah simbol Prana (energi kehidupan) yang dipersembahkan untuk menetralisir energi negatif alam.
Secara filosofis, ritual ini adalah aplikasi nyata dari Tri Hita Karana. Manusia tidak hanya mengambil dari alam, tetapi memiliki kewajiban moral untuk memberi kembali (berkorban) demi terciptanya harmoni.
Rahasia di Balik Ritual Minta Hujan
Secara teknis, Mulang Pakelem berfungsi sebagai ritual Istisqa atau memohon hujan. Dalam catatan sejarah dan observasi ekologis, ritual ini sering kali dilakukan sebagai respons terhadap kemarau panjang yang mengancam pertanian di Lombok.
Umat meyakini bahwa menyucikan “Hulu” (Rinjani) akan membawa keberkahan bagi “Hilir” (penduduk di kota dan desa). Air danau yang telah didoakan kemudian dibawa turun sebagai Tirta Kamandalu (air kehidupan) untuk memberkati sawah-sawah agar terhindar dari hama dan kekeringan.
Harmoni di Kaki Langit: Toleransi yang Tak Tersurat
Salah satu detail paling menyentuh dari Mulang Pakelem adalah interaksi sosialnya. Di balik ribuan umat Hindu yang beribadah, terdapat ratusan porter lokal dari suku Sasak yang membantu membawa logistik. Di Rinjani, sekat agama melebur. Semua orang tunduk pada satu hukum: penghormatan terhadap gunung suci.
Menyaksikan ritual ini adalah momen langka yang mengubah perspektif tentang perjalanan. Rinjani bukan sekadar daftar puncak yang harus ditaklukan, tetapi sebuah ruang di mana manusia, Tuhan, dan alam semesta duduk berdampingan dalam satu nampan doa.
Menjaga Kesucian di Jalur Pendakian
Menghadiri atau berpapasan dengan rombongan Mulang Pakelem menuntut etika tinggi. Berikut adalah panduan bagi Anda:
Jaga Lisan: Hindari mengeluh atau berbicara kasar; gunung dipercaya memiliki “telinga”.
Prioritas Jalur: Berikan jalan bagi rombongan yang membawa sesaji atau pelinggih.
Zero Waste: Kesucian ritual harus dibarengi dengan kebersihan fisik. Jangan tinggalkan jejak sampah di area sakral Segara Anak.
FAQ – Pertanyaan Populer Wisatawan
1. Apa tujuan upacara Mulang Pakelem?
Tujuan utama Mulang Pakelem adalah untuk memohon hujan, menjaga kesuburan tanah, dan memohon keselamatan serta keseimbangan alam (Tri Hita Karana) kepada Tuhan yang berstana di Gunung Rinjani.
2. Di mana upacara Mulang Pakelem dilaksanakan?
Upacara ini dilaksanakan di tepi dan di tengah Danau Segara Anak, yang merupakan kaldera Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.
3. Kapan upacara Mulang Pakelem dilakukan?
Secara rutin, upacara ini diadakan setiap tahun tepat pada saat bulan purnama di bulan kelima (Purnama Sasih Kelima) penanggalan Caka Hindu.
4. Benda apa saja yang dilarung saat Mulang Pakelem?
Benda yang dilarung meliputi Panca Datu (lima logam mulia: emas, perak, tembaga, besi, timah) serta hewan suci seperti ayam, itik, atau kambing.
Mulang Pakelem adalah pengingat bahwa kita hanyalah tamu di bumi ini. Dengan mengembalikan emas ke dasar danau dan doa ke langit tinggi, masyarakat Hindu Lombok telah mengajarkan kita tentang kerendahan hati.
Artikel Terbaru
Upacara Mulang Pakelem di Danau Segara Anak : Acara Komunitas Hindu di Pulau Lombok
Gorontalo, provinsi yang terletak di bagian utara Pulau Sulawesi, merupakan salah satu destinasi wisata yang menawarkan keindahan alam serta kekayaan budaya yang menakjubkan. Dengan lanskap yang menawan, dari pegunungan hijau hingga pantai-pantai eksotis, Gorontalo menjadi [...]
Rumah Alam Manado Adventure Park, terletak di Manado, Sulawesi Utara, Indonesia, Diresmikan pada tanggal 18 Juni 2016, Park ini memiliki luas sekitar 12 hektar, memberikan ruang yang cukup luas bagi pengunjung untuk menjelajahi dan melakukan [...]
Air Terjun Penimbungan : Tempat Favorit Para Pendaki Gunung Rinjani di Lombok
Pantai Balad di Kabupaten Sumbawa Barat : Dekat dengan Pusat Kota
Benteng Kuto Besak di Palembang : Ikon Provinsi Sumatera Selatan







