Wisata Biak Numfor 2026: Panduan Lengkap Surga Tersembunyi Papua & Jejak Sejarah PD II

Published On: 16/01/2026

Pernahkah Anda mendengar ungkapan lama tentang kota Biak? “Bila Ingat Akan Kembali”.

Awalnya, mengira itu hanyalah slogan pariwisata klise. Namun, begitu roda pesawat menyentuh landasan pacu Bandara Frans Kaisiepo yang legendaris, dan mata menangkap hamparan karang yang membelah samudra Pasifik, Biak bukan sekadar pulau; ia adalah sebuah perasaan.

Dari ketinggian, pulau ini tampak seperti kapal induk raksasa yang berlabuh tenang di Teluk Cendrawasih. Tanahnya keras berkarang, namun hatinya lembut penuh pesona. Biak Numfor adalah anomali indah di Timur Indonesia—tempat di mana sisa-sisa keganasan Perang Dunia II bersemayam damai berdampingan dengan surga bawah laut yang salah satu terkaya di dunia.

Ini bukan sekadar panduan wisata. Ini adalah kisah perjalanan menembus lorong waktu, menyelami biru yang menghipnotis, dan menyentuh jiwa Papua yang autentik.


🧭 Ringkasan Cepat (Quick Facts)

Untuk Anda yang menyukai data ringkas sebelum menyelam ke dalam cerita, berikut adalah “Cheat Sheet” wisata Biak:

  • Lokasi: Teluk Cendrawasih, sebelah utara pesisir Papua. Berhadapan langsung dengan Samudra Pasifik.

  • Akses Utama: Bandara Internasional Frans Kaisiepo (BIK). Penerbangan langsung dari Jayapura, Makassar, atau Jakarta (transit).

  • Julukan: Kota Karang Panas, Kota Kembang (dulu), Mutiara Hitam Pasifik.

  • Suhu Rata-rata: 26°C – 32°C (Cukup terik, siapkan sunblock).

  • Waktu Terbaik Berkunjung: Oktober – Maret (Saat ombak relatif tenang untuk diving, meski Pasifik selalu punya kejutan).

  • Kuliner Wajib: Ikan Bakar (Samandar), Singkong Marapen, Keladi Tumbuk, Kombrov (Gurita Asap).

  • Transportasi: Ojek (paling fleksibel), Sewa Mobil (Rp 500rb-600rb/hari), Angkutan Kota (Taksi).

  • Sinyal: Telkomsel 4G sudah mencakup sebagian besar wilayah kota dan tempat wisata utama.


Klaster Menyusuri Lorong Waktu Perang Pasifik

Biak bukan hanya tentang laut. Biak adalah saksi bisu di mana ribuan nyawa melayang demi ego negara-negara adidaya pada masanya. Atmosfer ini masih terasa kental, magis, dan sedikit mencekam.

1. Goa Jepang (Goa Binsari): Kuburan Massal dalam Perut Bumi

Goa Jepang Binsari Biak Numfor

Goa Jepang Binsari – Kab. Biak Numfor Prov. Papua | Google Map/Kontributor Wolter Mendel

Perjalanan sejarah dimulai di Distrik Samofa. Goa Binsari, atau yang dikenal warga lokal sebagai Abyab Binsari (Goa Nenek), menyambut dengan hawa lembab dan sunyi.

Bayangkan Anda berdiri di mulut gua alami yang dikelilingi akar pohon raksasa yang menjuntai dramatis. Pada tahun 1943-1945, di bawah komando Kolonel Kuzume, gua ini menjadi benteng pertahanan terakhir bagi sekitar 3.000 tentara Jepang. Namun, strategi itu berubah menjadi mimpi buruk ketika pasukan Sekutu menjatuhkan bom dan drum bahan bakar ke dalam gua ini pada tahun 1944.

Saat menelusuri lorongnya, bulu kuduk meremang bukan karena takut, tapi karena hormat. Di sudut-sudut gua yang gelap, Anda masih bisa melihat sisa-sisa helm besi yang berkarat, botol obat, selongsong peluru, bangkai mobil jeep, hingga tulang-belulang tentara Jepang yang menyatu dengan tanah kapur. Cahaya matahari yang menerobos masuk dari lubang atap gua (bekas hantaman bom) menciptakan siluet ilahi yang kontras dengan sejarah kelam tempat ini.

2. Monumen Perang Dunia II: Pesan Damai di Tepi Parai

Bergerak ke arah Pantai Parai, sekitar 3 km dari goa, berdiri sebuah monumen yang menghadap laut lepas. Dibangun pada tahun 1994, tempat ini adalah antitesis dari Goa Jepang. Jika goa adalah tempat kematian, monumen ini adalah simbol perdamaian.

Di sini tersimpan abu jenazah tentara Jepang yang berhasil dikumpulkan. Prasasti dalam tiga bahasa (Indonesia, Jepang, Inggris) menyerukan pesan agar perang tidak pernah terjadi lagi. Berdiri di sini, memandang laut Pasifik yang tenang, sulit membayangkan bahwa pantai ini dulunya merah oleh darah pertempuran pendaratan Sekutu.

🌊 Klaster Simfoni Air—Dari Telaga Biru hingga Deburan Gong

Meninggalkan sejarah, beralih ke pesona air Biak yang unik. Karena struktur tanahnya yang berupa karang atol yang terangkat, air di Biak memiliki kejernihan yang sulit dinalar logika.

3. Telaga Biru Samares: Kaca Alam di Tengah Hutan

Di Biak Timur, tersembunyi sebuah permata bernama Telaga Biru Samares. Perjalanan 1-2 jam dari kota terbayar lunas saat mata Anda menangkap gradasi warna airnya: biru safir yang pekat di tengah, memudar menjadi toska jernih di tepian.

Airnya payau dan sangat dingin. Saking jernihnya, Anda bisa melihat batang-batang pohon yang tumbang di dasar telaga dan ikan-ikan yang berenang di antaranya tanpa perlu menyelam. Berenang di sini memberikan sensasi mistis; hening, dikelilingi hutan rimbun, dan air yang seolah memeluk tubuh Anda. Ini adalah healing dalam arti sebenarnya.

4. Air Terjun Wafsarak & Karmon: Tirai Zamrud

Siapa sangka pulau karang punya air terjun?

  • Air Terjun Wafsarak (Distrik Warsa): Tingginya sekitar 10 meter. Yang membuatnya istimewa adalah aliran airnya yang melebar seperti tirai putih raksasa, jatuh ke kolam berwarna hijau zamrud. Anak-anak lokal sering melompat dari akar pohon di sisinya, menciptakan pemandangan sukacita yang sederhana.

  • Air Terjun Karmon: Tak jauh dari Wafsarak, air terjun ini lebih tinggi (±30 meter) dengan undakan batu kapur yang dilapisi lumut. Alirannya lebih deras, menciptakan kabut air yang menyegarkan wajah seketika Anda mendekat.

5. Pantai Batu Picah (Pantai Gong): Amarah Laut Pasifik

Jika pantai lain menawarkan ketenangan, Pantai Batu Picah di Biak Utara menawarkan drama. Sesuai namanya, ini adalah formasi batu karang tajam yang menghadap langsung ke Samudra Pasifik tanpa penghalang.

Saat ombak besar datang menghantam karang, terdengar dentuman keras seperti gong, diikuti semburan air yang menjulang tinggi ke udara—bisa mencapai belasan meter! Di sini Anda tidak berenang, Anda berdiri (di jarak aman) dan mengagumi kekuatan alam yang rawat. Namun, di sela-sela karang tajam itu, terdapat kolam-kolam kecil alami yang tenang, tempat Anda bisa berendam santai sambil melihat “pertunjukan” ombak di depan mata.

🤿 Klaster Surga Bawah Laut Kepulauan Padaido

Inilah alasan mengapa penyelam dunia diam-diam mencintai Biak. WWF menyebut kawasan ini sebagai salah satu ekosistem koral terpenting.

6. Kepulauan Padaido: “Surga yang Jatuh”

Nama “Padaido” berasal dari bahasa lokal yang berarti “keindahan yang tak dapat diungkapkan”. Gugusan pulau ini (Owi, Rurbas, Wundi, dll) memiliki visibilitas bawah air yang gila—bisa mencapai 30 meter!

  • Pulau Rurbas: Terbagi menjadi Rurbas Besar dan Kecil. Di sini, Anda tidak perlu diving gear mahal untuk melihat keajaiban. Cukup snorkeling di kedalaman 1-2 meter, Anda sudah disambut ratusan spesies ikan warna-warni dan terumbu karang lunak (soft coral) yang sehat.

  • Shark Point: Di dekat Rurbas Kecil, jika beruntung (dan bernyali), Anda bisa berenang bersama hiu sirip hitam (blacktip reef sharks). Tenang, mereka cenderung pemalu selama Anda tidak agresif.

  • Pulau Owi: Selain bawah lautnya, pulau ini memiliki landasan pacu pesawat tua bekas Sekutu yang kini menjadi semak belukar, bukti peran strategisnya di masa lalu.

7. Pantai Bosnik (Segara Indah): Ikon Biak

Ini adalah pantai “sejuta umat” di Biak, dan untuk alasan yang bagus. Terletak dekat pasar tradisional, Pantai Bosnik menawarkan pasir putih luas dan air biru kristal.

Aktivitas terbaik di sini? Beli kelapa muda, duduk di pondok, lalu sewa ban pelampung. Jika lapar, tinggal melangkah ke Pasar Bosnik yang buka hari Selasa, Kamis, dan Sabtu. Di sana, mama-mama Papua menjual Kombrov (gurita asap) dan Ikan Samandar segar yang baru ditangkap. Rasanya? Gurih, smoky, dan segar luar biasa.

8. Pantai Anggopi & Kolam Salobar

Pantai ini unik karena memiliki pertemuan antara air laut dan air tawar. Di sisi pantai terdapat kolam alami bernama Salobar. Setelah lengket bermain di air laut asin, Anda bisa langsung membilas diri di kolam air tawar yang dingin ini.

🏺 Klaster Kearifan Lokal & Budaya

9. Kuburan Tua Padwa: Mistis di Tebing Karang

Di Desa Padwa, tradisi kematian dirayakan dengan cara berbeda. Di sini, terdapat tebing karang terjal di tepi laut yang berfungsi sebagai makam leluhur.

Tradisi masa lampau mengharuskan jenazah diletakkan di para-para hingga mengering, lalu tulang-belulangnya dimasukkan ke celah-celah tebing karang. Meski tradisi ini sudah berhenti sejak masuknya Injil, Anda masih bisa melihat sisa-sisa peti dan tulang belulang tua di ceruk tebing. Untuk mencapainya, Anda harus menuruni ratusan anak tangga yang curam. Pemandangan dari bawah—tebing raksasa berpadu dengan laut biru—sangat breathtaking.

10. Taman Burung & Anggrek Biak

Berlokasi di Kampung Ruar, Distrik Biak Timur, Taman Burung dan Taman Anggrek Biak menawarkan oase hijau yang menenangkan dan kontras dengan wisata bahari pesisir Biak. Hanya berjarak 10-15 menit dari pusat kota, destinasi ini berfungsi sebagai santuari pelestarian kekayaan hayati Papua yang menyambut pengunjung dengan suasana asri. Di sini, Papua menegaskan statusnya sebagai “Surga Anggrek” melalui koleksi flora yang memukau, mulai dari Anggrek Raja yang megah, Anggrek Kribo yang unik, hingga Anggrek Hitam Papua yang langka dan eksotis.

Selain kekayaan flora, taman ini menjadi rumah bagi fauna endemik kebanggaan Papua yang ditempatkan dalam aviary menyerupai habitat aslinya. Pengunjung dapat melihat langsung keindahan Cendrawasih, Kakatua Raja, Kakatua Jambul Kuning, berbagai jenis Nuri, hingga Kasuari. Lebih dari sekadar tempat wisata, kawasan ini memegang peran vital sebagai pusat konservasi dan edukasi, mengajak generasi muda dan wisatawan untuk mengenal serta mencintai satwa asli yang menjadi identitas alam Indonesia Timur.

🎒 Panduan Praktis & Tips Perjalanan

Berdasarkan pengalaman para traveler (seperti komunitas Backpacker Jakarta dan Superlive), berikut tips agar perjalanan Anda lancar:

Transportasi:

  • Sewa Motor adalah cara paling hemat dan bebas. Tarif sekitar Rp 150.000/hari. Anda bisa bertanya pada resepsionis hotel atau tukang ojek pangkalan.

  • Sewa Mobil + Supir disarankan jika Anda pergi rombongan atau ingin ke tempat jauh seperti Telaga Samares, tarif berkisar Rp 600.000++ per hari (belum BBM).

  • Ojek: Sangat mudah ditemukan. Contoh tarif: Kota ke Bosnik (jarak jauh) sekitar Rp 40.000 – Rp 50.000. Dalam kota Rp 5.000 – Rp 10.000.

Akomodasi:

  • Budget: Hotel Sinar Kayu (mulai Rp 150.000-an). Sederhana tapi bersih.

  • Menengah: Hotel Agung atau Asana Biak (eks Aerowisata) yang memiliki pemandangan laut, meski bangunannya tua namun bersejarah.

Tips Penting:

  1. Pinang & Sirih: Cobalah mengunyah pinang bersama warga lokal untuk mencairkan suasana. Ini adalah “diplomasi” terbaik di Papua.

  2. Hari Pasar: Atur jadwal ke Bosnik pada hari pasar (Selasa, Kamis, Sabtu) untuk mendapatkan seafood termurah dan tersergar.

  3. Hormati Adat: Di tempat seperti Kuburan Tua Padwa atau Telaga Samares, jagalah sopan santun. Jangan memindahkan tulang atau merusak tanaman.

  4. Uang Tunai: Siapkan uang tunai pecahan kecil. ATM tersedia di kota, tapi jarang di pelosok tempat wisata.


🌟 Apa kata wisatawan tentang Biak?

 Berikut adalah rangkuman sentimen ulasan yang sering muncul dari Google Map Review, platform review dan media sosial:

⭐⭐⭐⭐⭐ Sarah L. (Local Guide)

“Telaga Biru Samares benar-benar unreal! Airnya sebening kaca. Worth it banget perjalanan 2 jam dari kota. Tapi tolong bawa sampah kalian pulang ya, jangan kotori surga ini. Akses jalan sudah lumayan bagus dibanding tahun lalu.”

⭐⭐⭐⭐ Budi Santoso

“Goa Jepang sangat merinding vibes-nya. Edukasi sejarah yang bagus. Sayangnya museum mininya kurang terawat, banyak benda sejarah cuma ditaruh di meja terbuka berdebu. Semoga Pemda lebih memperhatikan aset ini.”

⭐⭐⭐⭐⭐ Kenzou Y.

“Diving di Padaido adalah pengalaman terbaik. Visibilitas 30m+! Karangnya sehat banget, jauh lebih bagus dari beberapa spot populer di barat Indonesia. Makan ikan bakar di Bosnik juga wajib!”

 


❓ FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan 

Q: Berapa biaya tiket pesawat ke Biak?

A: Harga bervariasi. Dari Jakarta, tiket berkisar antara Rp 3.000.000 – Rp 5.000.000 sekali jalan, biasanya transit di Makassar atau Jayapura.

Q: Apakah aman berwisata ke Biak Papua?

A: Biak dikenal sebagai salah satu daerah paling aman dan kondusif di Papua. Masyarakatnya sangat ramah dan terbuka terhadap pendatang. Namun, seperti di tempat lain, tetap gunakan akal sehat dan hindari keluyuran sendirian di tempat sepi saat larut malam.

Q: Apa arti dari “Bila Ingat Akan Kembali”?

A: Ini adalah kepanjangan kreatif dari kata “BIAK”. Slogan ini menggambarkan pesona pulau tersebut yang membuat siapa saja yang pernah berkunjung akan merasa rindu dan ingin kembali lagi.

Q: Apakah susah mencari makanan halal di Biak?

A: Sangat mudah. Biak memiliki komunitas Muslim yang cukup besar dan banyak pendatang dari Jawa/Makassar. Warung makan halal (seperti lalapan, bakso, ikan bakar) tersebar di seluruh kota.

Q: Apa bedanya Biak dengan Raja Ampat?

A: Raja Ampat lebih fokus pada gugusan pulau karst (bukit) di atas laut. Biak lebih variatif: punya sejarah Perang Dunia II yang kuat, air terjun, gua, dan pantai landai. Bawah lautnya sama-sama indah, namun Biak cenderung lebih terjangkau secara biaya logistik dibanding Raja Ampat.


Biak Numfor mungkin tidak setenar Bali atau se-viral Raja Ampat. Namun, justru itulah daya tariknya. Ia menawarkan keaslian. Di sini, Anda bisa merenung di depan tulang belulang sejarah, lalu satu jam kemudian tertawa lepas bersama anak-anak Papua yang melompat ke air zamrud.

Jika Anda mencari destinasi yang menawarkan kedalaman makna dan keindahan mata sekaligus, Biak menunggu Anda. Dan hati-hati, slogan itu benar adanya: Sekali Anda ke Biak, ingatan itu akan memaksa Anda untuk kembali.

Sudah siap memasukkan Biak ke dalam bucket list 2026 Anda?

Leave A Comment

Artikel Terbaru

Pilihan Editor