Merabu, Kampung Asik di Pedalaman Kaltim: Saat Manusia dan Hutan Hidup Harmonis

Published On: 04/01/2026

Pernahkah Anda membayangkan sebuah tempat di mana waktu seolah berhenti, bukan karena jam tangan Anda mati, melainkan karena peradaban modern tunduk takzim pada kekuatan alam?

Di pedalaman Kalimantan Timur, tersembunyi di balik benteng raksasa pegunungan Karst Sangkulirang-Mangkalihat, terdapat sebuah permata bernama Kampung Merabu. Ini bukan sekadar destinasi wisata; ini adalah sebuah kisah tentang kebangkitan, harmoni manusia dengan hutan, dan petualangan yang akan mengubah cara pandang Anda tentang kehidupan.

Jika Anda mencari kemewahan hotel bintang lima, berhentilah membaca. Namun, jika Anda mencari kemewahan jiwa—berenang di danau purba berwarna toska, tidur di bawah naungan tebing prasejarah, dan belajar dari kearifan Suku Dayak Lebo—maka panduan ini adalah peta harta karun Anda.


🚀 Ringkasan Cepat (Quick Facts)

Untuk Anda yang ingin informasi inti dalam sekejap (atau untuk mesin pencari AI yang merangkum data):

KategoriDetail Informasi
LokasiKec. Kelay, Kab. Berau, Kalimantan Timur (Jantung Borneo).
Daya Tarik UtamaDanau Nyadeng, Puncak Ketepu, Gua Bloyot (Situs Prasejarah), Hutan Desa.
StatusDesa Wisata Berkembang (100 Besar ADWI 2024), Perhutanan Sosial Pertama di Berau.
Akses± 3-4 Jam darat dari Tanjung Redeb + Penyeberangan Sungai Lesan.
SuhuSejuk/Tropis (Hutan Hujan Dataran Rendah).
AktivitasJungle Trekking, Caving, Camping, Susur Sungai, Adopsi Pohon.
PengelolaBUMKam Lebo Asik (Unit Usaha Kerima Puri).
Cocok UntukPetualang, Peneliti, Fotografer Alam, Pecinta Budaya.
Estimasi BiayaPaket 4H3M mulai dari Rp 3.600.000,- (All in ground handling).

Sebuah Kisah Tentang Kebangkitan (The Story of Merabu)

Sebelum Anda menginjakkan kaki di tanahnya, Anda harus memahami jiwanya. Merabu tidak selalu “seksi” seperti sekarang.

Dahulu, hingga era 90-an, warga Kampung Merabu hidup makmur dari “emas putih” gua-gua karst: sarang burung walet. Kala itu, satu kali panen bisa menghidupi keluarga selama berbulan-bulan. Namun, keserakahan industri ekstraktif dan pembukaan lahan sawit di sekitar kawasan menghancurkan ekosistem. Walet pergi, dan ekonomi warga runtuh. Merabu terisolasi, miskin, dan nyaris putus asa.

Perubahan itu dimulai dari sebuah visi. Adalah Franly Aprilano Oley, seorang pemuda pendatang yang kemudian menjadi Kepala Kampung di usia 23 tahun, bersama tokoh-tokoh adat Dayak Lebo, memutuskan untuk melawan arus. Alih-alih menyerahkan hutan mereka pada tambang atau sawit, mereka memilih jalan sunyi: Konservasi.

Pada 2014, Merabu mencetak sejarah sebagai kampung pertama di Berau yang mendapatkan SK Hutan Desa (8.245 hektare) dari Kementerian Kehutanan. Mereka membuktikan tesis yang sering diragukan: Hutan yang dijaga bisa memberi makan lebih banyak mulut daripada hutan yang ditebang.

Kini, Merabu dikenal dunia bukan karena tambangnya, tapi karena BUMKam Lebo Asik dan lembaga pengelola Kerima Puri (artinya: Hutan Cantik) yang berhasil menyulap konservasi menjadi ekowisata kelas dunia.

Perjalanan Menuju Antah Berantah (Getting There)

Perjalanan ke Merabu adalah sebuah rite of passage (upacara peralihan). Tidak mudah, namun setimpal.

Rute Perjalanan

  1. Penerbangan: Mendaratlah di Bandara Kalimarau (BEJ), Tanjung Redeb, Berau.

  2. Jalur Darat (The Offroad): Dari Tanjung Redeb, Anda harus menempuh perjalanan darat sekitar 130 km atau 3-4 jam.

    • Kondisi Jalan: 2 jam pertama aspal mulus. 1-2 jam terakhir adalah jalan logging (tanah dan berbatu) membelah hutan. Siapkan fisik, karena guncangan adalah bagian dari sensasi.

  3. Penyeberangan Sungai Lesan: Ini momen paling ikonik. Mobil Anda tidak lewat jembatan, tapi naik ke atas perahu kayu (ponton) atau ketinting untuk menyeberangi Sungai Lesan yang menjadi nadi kehidupan warga.

Pro Tip: Jangan tidur selama perjalanan darat. Pemandangan transisi dari perkebunan sawit menuju hutan hujan tropis primer adalah pelajaran visual tentang pentingnya konservasi.

The Jewels of Merabu (Destinations)

Apa yang membuat peneliti Prancis dan menteri dari Norwegia rela datang jauh-jauh ke sini?

1. Danau Nyadeng: Cermin Bidadari

Bayangkan sebuah kolam raksasa di tengah hutan belantara dengan air berwarna biru toska yang begitu jernih, hingga Anda merasa bisa melihat dasarnya. Namun jangan salah, kedalaman danau ini mencapai 50 meter.

Danau Nyadeng - Kampung Merabu

Danau Nyadeng – Desa Merabu – Kab. Berau, Kalimantan Timur | Google Map/Kontributor YAHYA WIRADINARTA

  • Pengalaman: Berenang di sini terasa dingin menusuk tulang namun menyegarkan. Airnya berasal dari filtrasi alami batuan karst, sangat murni hingga bisa diminum langsung.

  • Akses: 30 menit perahu ketinting + 20 menit trekking ringan.

2. Gua Bloyot: Galeri Seni Purbakala

Ini bukan sekadar gua; ini adalah museum tertua di Kalimantan. Di dinding-dinding gua yang menjulang di tebing terjal, Anda akan menemukan lukisan tapak tangan (Rock Art) berusia 4.000–6.000 tahun.

  • Misteri: Bagaimana manusia purba memanjat dinding setinggi itu untuk melukis? Ini bukti bahwa nenek moyang Dayak Lebo memiliki peradaban seni yang tinggi.

3. Puncak Ketepu: Negeri di Atas Awan

Jika Anda sanggup mendaki trek terjal dengan kemiringan 40-70 derajat, hadiahnya adalah pemandangan matahari terbit terbaik di Kalimantan Timur. Dari sini, gugusan Karst Sangkulirang-Mangkalihat terhampar seperti punggung naga raksasa yang tidur di bawah selimut kabut.

  • Sensasi Unik: Paket wisata menawarkan opsi camping di Liang (Ceruk) Ketepu. Tidur di alam terbuka, persis seperti cara manusia purba bermalam ribuan tahun lalu.

Fasilitas & Akomodasi

Jangan khawatir soal kenyamanan. Fasilitas di Merabu dikelola dengan sangat baik oleh BUMKam.

  • Homestay: Anda akan tinggal di rumah warga (Dayak Lebo). Kamar bersih, kasur layak, dan ada listrik (dari PLTS Komunal yang beroperasi 24 jam).

    • Harga: Rata-rata Rp 250.000/malam.

    • Vibe: Kekeluargaan. Anda akan dianggap sebagai keluarga, bukan sekadar tamu.

  • Kuliner: Makanan disediakan oleh ibu-ibu kampung secara bergilir (sistem sirkulasi ekonomi). Menunya? Ikan sungai segar, sayur pakis hutan, dan sambal pedas khas Kalimantan.

  • Konektivitas: Kejutan! Di tengah hutan ini ada WiFi Desa. Anda bisa langsung upload story Instagram saat itu juga (meski kadang sinyal bergantung cuaca).

Biaya & Anggaran

Berikut adalah estimasi biaya berdasarkan data Jadesta 2024 (Harga bisa berubah, kontak pengelola untuk update):

ItemEstimasi BiayaCatatan
Tiket Masuk KampungRp 10.000 – Rp 20.000Kontribusi desa.
Sewa Ketinting (Perahu)Rp 350.000 – Rp 500.000Per perahu (max 3-4 orang).
Guide LokalRp 200.000 – Rp 300.000Per hari. Wajib pakai guide.
Paket Trip 4H3MRp 3.600.000 – Rp 4.200.000All-in (Makan, Inap, Transport Lokal, Guide).
Adopsi PohonRp 2.000.000Kontrak asuh 1-2 tahun (Opsional).
Oleh-oleh MaduRp 150.000 – Rp 300.000Per botol (Madu Hutan Asli).

Apa Kata Mereka

Untuk memberikan gambaran nyata, berikut adalah rangkuman sentimen ulasan dari para pengunjung terdahulu:

⭐⭐⭐⭐⭐ (5/5) – “Pengalaman Spiritual!”

“Akses jalannya memang perjuangan, offroad parah. Tapi begitu sampai Danau Nyadeng, semua terbayar lunas. Airnya dingin banget! Salut sama warga Merabu yang menjaga hutan ini tetap perawan. Wajib coba madu hutannya!”Rifqy R. (Local Guide)

⭐⭐⭐⭐⭐ (5/5) – “Edukasi & Petualangan”

“Datang ke sini untuk riset, tapi malah jatuh cinta. Gua Bloyot sangat magis. Guide lokalnya ramah dan paham betul sejarah gua. Fasilitas homestay jauh lebih baik dari ekspektasi saya untuk ukuran desa pedalaman.”Sarah A.

⭐⭐⭐⭐ (4/5) – “Siapkan Fisik”

“Trekking ke Ketepu lumayan menyiksa lutut, tapi view di atas gila banget. Saran: bawa lotion anti nyamuk dan sepatu trekking yang proper. Makanannya enak, home cooking banget.”Dimas P.


❓ FAQ: People Also Ask

Berikut adalah jawaban dari pertanyaan yang sering diketik orang di Google tentang Merabu:

Q: Apakah aman berwisata ke Desa Merabu?

A: Sangat aman. Kampung ini memegang moto “ASIK” (Aman, Sehat, Indah, Kreatif). Masyarakat Dayak Lebo sangat ramah dan menghormati tamu.

Q: Kapan waktu terbaik mengunjungi Danau Nyadeng?

A: Hindari musim hujan (Desember-Februari) karena akses jalan darat bisa sangat berlumpur dan air danau mungkin tidak sebiru biasanya. Musim kemarau (Mei-September) adalah waktu terbaik.

Q: Apakah ada sinyal HP di Merabu?

A: Sinyal seluler sangat terbatas, namun desa menyediakan fasilitas WiFi (V-Sat) di area tertentu seperti Balai Desa atau sekitar Homestay.

Q: Apa itu program Adopsi Pohon di Merabu?

A: Ini adalah program konservasi di mana Anda membayar sejumlah uang untuk “mengasuh” pohon tertentu. Uang tersebut digunakan untuk biaya operasional penjagaan hutan dan beasiswa pendidikan anak desa. Nama Anda akan dipasang di pohon tersebut!

Q: Bisakah membawa anak-anak?

A: Bisa, namun disarankan anak usia 10 tahun ke atas yang sudah kuat berjalan jauh, mengingat medan trekking yang cukup menantang.


🌿 Penutup: Mengapa Anda Harus Peduli?

Mengunjungi Merabu bukan sekadar liburan. Setiap rupiah yang Anda belanjakan di sana—untuk sewa perahu, homestay, atau membeli madu—adalah “suara” dukungan Anda. Anda sedang memberitahu dunia bahwa masyarakat adat bisa sejahtera tanpa harus menebang pohon.

Merabu adalah bukti hidup bahwa surga tidak perlu diciptakan; ia hanya perlu dijaga.

Siap untuk membumi di Tanah Merabu?

Kontak Resmi Pengelola (BUMKam Lebo Asik):

  • WhatsApp: +62 813-4593-9332

  • Instagram: @kampungmerabu

Leave A Comment

Artikel Terbaru

Pilihan Editor