Di tengah denyut nadi Sungai Musi yang membelah Kota Palembang, terdapat sebuah delta kecil yang seolah menolak untuk tenggelam. Ia bukan sekadar gundukan tanah di tengah air; ia adalah Pulau Kemaro. Bagi penduduk lokal, pulau ini adalah manifestasi dari legenda cinta yang agung. Bagi sejarawan, ia adalah saksi bisu pertahanan maritim Kesultanan Palembang. Dan bagi ribuan peziarah yang datang setiap tahunnya, ia adalah tanah suci tempat doa-doa dilangitkan.

Artikel ini akan membawa Anda menyelami setiap lapisan cerita Pulau Kemaro—mulai dari romansa tragis Tan Bun An, sisa-sisa benteng yang hilang, hingga kemegahan Pagoda sembilan lantai yang kini mencakar langit Palembang

.


Ringkasan Cepat (Quick Facts)

Untuk memberikan gambaran menyeluruh sebelum masuk ke dalam narasi mendalam, berikut adalah data kunci mengenai Pulau Kemaro:

KategoriDetail Informasi
LokasiDelta Sungai Musi, Kec. Ilir Timur II, Palembang, Sumatera Selatan (±6 km dari Jembatan Ampera).
Koordinat2°58′44″LS 104°49′05″BT
Luas Area±30 hingga 79 Hektar (bervariasi tergantung sumber dan pasang surut).
Jam Operasional08.00 – 17.00 WIB (Buka 24 jam saat festival Cap Go Meh).
Harga TiketGratis (Biaya hanya untuk transportasi perahu).
Akses TransportasiPerahu Ketek / Speedboat dari Dermaga Benteng Kuto Besak (BKB) atau Pasar 16 Ilir.
Estimasi Biaya PerahuRp50.000 – Rp100.000 per orang (Speedboat) / Rp150.000 – Rp300.000 (Sewa perahu PP).
Ikon UtamaPagoda 9 Lantai, Klenteng Hok Tjing Rio, Pohon Cinta, Makam Tan Bun An & Siti Fatimah.
Waktu TerbaikPerayaan Cap Go Meh (15 hari setelah Imlek).
FasilitasToilet, warung makan, jalur pejalan kaki, dermaga.

Sebuah Pulau yang Menolak Tenggelam

Nama “Kemaro” bukanlah sekadar label tanpa makna. Secara etimologi, ia berasal dari kata “Kemarau”. Masyarakat Palembang kuno memberikan nama ini setelah mengamati fenomena alam yang ganjil: pulau ini tidak pernah tergenang air.

Ketika musim hujan tiba dan debit Sungai Musi naik drastis, atau ketika air pasang kiriman dari laut menerjang, kawasan di sekitarnya—seperti area rawa di Palembang—mungkin akan terendam. Namun, Pulau Kemaro tetap kering. Dari kejauhan, ia tampak seperti kapal raksasa yang terapung tenang di atas permukaan air keruh Sungai Musi. Keunikan geografis inilah yang pertama kali menarik perhatian manusia untuk bermukim, berlindung, dan akhirnya, membangun legenda di atas tanahnya.

Terletak strategis di antara kawasan industri raksasa—Pabrik Pupuk Sriwidjaja (Pusri), Pertamina Plaju, dan Sungai Gerong—pulau ini kini menjadi oase hijau di tengah hiruk-pikuk aktivitas industri dan lalu lintas tongkang batu bara.

Legenda Cinta Tan Bun An dan Siti Fatimah

Jantung dari daya tarik Pulau Kemaro adalah sebuah kisah cinta tragis yang telah dituturkan turun-temurun, setara dengan Romeo dan Juliet di Barat atau Sampek Engtay di Tiongkok. Kisah ini adalah benang merah yang menyatukan budaya Melayu Palembang dan Tionghoa.

Pertemuan Dua Dunia

Dikisahkan pada zaman dahulu, seorang pangeran dan saudagar kaya dari Tiongkok bernama Tan Bun An datang ke Palembang untuk berdagang. Ia kemudian bertemu dengan Siti Fatimah, seorang putri dari keluarga Kerajaan Sriwijaya (dalam beberapa versi disebut Kesultanan Palembang). Kecantikan dan budi pekerti Siti Fatimah meluluhkan hati Tan Bun An. Cinta mereka bersemi melintasi batas etnis dan agama—Tan Bun An seorang penganut Buddha/Konghucu, sementara Siti Fatimah adalah seorang Muslimah.

Tragedi Guci Sawi

Ketika Tan Bun An melamar Siti Fatimah, syarat diajukan: ia harus menyediakan sembilan guci berisi emas. Tan Bun An menyanggupinya. Ia mengirim utusan atau pulang sendiri ke Tiongkok untuk meminta restu dan harta tersebut dari orang tuanya. Restu didapat, dan orang tua Tan Bun An memberikan sembilan guci berisi emas murni.

Namun, untuk melindungi emas tersebut dari ancaman bajak laut yang ganas di Laut Tiongkok Selatan, bagian atas guci ditutupi dengan lapisan sayuran sawi asin yang berbau menyengat.

Sesampainya kapal Tan Bun An kembali di perairan Musi, ia hendak mempersembahkan hadiah itu kepada calon mertuanya. Namun, saat membuka guci pertama, ia hanya melihat sawi asin yang mulai membusuk. Merasa dipermalukan oleh orang tuanya sendiri, dan tanpa memeriksa lebih dalam, Tan Bun An yang dikuasai amarah membuang guci-guci tersebut ke Sungai Musi.

Pada guci terakhir, guci itu terhempas keras ke dinding kapal dan pecah. Di sela-sela sawi yang berserakan, berkilauanlah kepingan-kepingan emas. Tan Bun An terhenyak. Penyesalan yang luar biasa menghantam dadanya. Tanpa berpikir panjang, ia terjun ke dalam arus Sungai Musi untuk menyelamatkan harta cintanya.

Sumpah Setia

Melihat kekasihnya tak kunjung muncul ke permukaan, Siti Fatimah berlari ke tepian kapal. Sebelum melompat menyusul Tan Bun An, ia bersumpah: “Jika ada tanah yang tumbuh di tengah sungai ini, maka di situlah kuburan saya.”

Keduanya pun hilang ditelan Sungai Musi. Sesuai sumpah sang putri, perlahan-lahan muncullah gundukan tanah di lokasi mereka tenggelam, yang kini kita kenal sebagai Pulau Kemaro. Makam mereka kini diabadikan berdampingan, menjadi simbol cinta yang melampaui maut.

Menelusuri Lorong Sejarah (Fakta di Balik Legenda)

Di balik romantisme legendanya, Pulau Kemaro menyimpan lapisan sejarah yang nyata dan kadang kelam. Berdasarkan catatan sejarah dan arsip Kesultanan:

  1. Benteng Tambak Bayo:

    Pada era Kesultanan Palembang Darussalam, pulau ini memegang peran militer vital. Di sini pernah berdiri Benteng Tambak Bayo, benteng pertahanan lapis pertama (maritim) yang menjaga akses menuju Keraton Kuto Gawang. Benteng ini dilengkapi meriam yang siap menghalau kapal-kapal VOC Belanda. Sayangnya, setelah jatuhnya Palembang pada 1821, Belanda menghancurkan benteng ini hingga rata dengan tanah agar tidak lagi menjadi ancaman.

  2. Era Kelam 1965-1967 (Kamp Tapol):

    Ada sisi sejarah yang jarang diceritakan oleh pemandu wisata. Pada masa pergolakan politik pasca-Gerakan 30 September, bagian timur Pulau Kemaro seluas ±3 hektar pernah difungsikan sebagai kamp penahanan bagi tahanan politik (Tapol) yang dituduh terlibat PKI. Ratusan orang diasingkan di sini dalam kondisi yang memprihatinkan. Jejak sejarah ini menjadikan Pulau Kemaro bukan hanya tempat wisata, tetapi juga situs memori kolektif bangsa.

Arsitektur dan Spiritualitas

Saat Anda melangkah turun dari dermaga, atmosfer Tionghoa langsung menyergap. Pulau Kemaro adalah contoh nyata akulturasi budaya yang harmonis.

Pagoda Pulau Kemaro

Pagoda Pulau Kemaro – Palembang, Sumatera Selatan | Google Map/Kontributor Wolf H

Pagoda Sembilan Lantai

Dibangun pada tahun 2006 dan selesai 2009, Pagoda setinggi 45 meter ini adalah ikon visual Pulau Kemaro. Arsitekturnya mengikuti prinsip Feng Shui yang ketat. Bangunan ini memiliki delapan sudut yang menyimbolkan Pat Kwa (Delapan Trigram), yang dipercaya membawa keseimbangan energi dan keberuntungan. Warna merah dan kuning yang mendominasi melambangkan kemakmuran dan keagungan. Meskipun bagian dalamnya sering kali kosong, pengunjung diperbolehkan naik untuk menikmati panorama Sungai Musi dari ketinggian.

Klenteng Hok Tjing Rio (Kuan Im)

Lebih tua dari pagoda, kelenteng ini sudah berdiri sejak 1962. Ini adalah pusat spiritual pulau. Yang menarik adalah tingginya toleransi di sini. Dalam ritual sesaji, umat sering kali tidak menggunakan daging babi, melainkan kambing atau ayam. Ini adalah bentuk penghormatan tak tertulis kepada Siti Fatimah, sang “tuan rumah” yang seorang Muslimah. Di depan kelenteng inilah terletak makam Siti Fatimah dan Tan Bun An yang selalu dipenuhi dupa dan bunga.

Misteri “Pohon Cinta”

Di salah satu sudut pulau, terdapat sebuah pohon beringin tua yang disebut Pohon Cinta. Mitos yang beredar sangat kuat: jika sepasang kekasih menuliskan nama mereka di batang pohon ini, cinta mereka akan abadi seperti Tan Bun An dan Siti Fatimah.

Namun, ada sisi lain dari mitos ini. Konon, jika pasangan datang ke sini dan membuat janji yang tidak sungguh-sungguh, hubungan mereka justru akan kandas. Pohon ini kini telah dipagari besi. Langkah ini diambil bukan karena alasan mistis semata, melainkan untuk konservasi—mencegah vandalisme dari ribuan pengunjung yang ingin mengukir nama mereka di kulit kayu pohon tersebut.

Festival Cap Go Meh — Pesta Cahaya di Atas Sungai

Jika Anda ingin melihat Pulau Kemaro dalam wujud terbaiknya, datanglah saat Cap Go Meh (15 hari setelah Imlek). Pada malam itu, pulau ini berubah menjadi lautan cahaya.

Ribuan lampion merah digantung, menciptakan refleksi indah di air sungai. Yang paling istimewa adalah dipasangnya Jembatan Ponton—jembatan apung sementara yang disusun dari tongkang-tongkang besar. Jembatan ini menghubungkan dermaga darat (biasanya area Kalidoni/Pusri) langsung ke pulau, memungkinkan pejalan kaki menyeberangi Sungai Musi dengan berjalan kaki.

Suasana sangat magis: asap hio mengepul tebal, suara genta kelenteng beradu dengan debur ombak sungai, dan atraksi Barongsai meliuk-liuk di tengah kerumunan. Ini adalah momen di mana dimensi spiritual dan pesta rakyat bersatu, membawa berkah ekonomi bagi pengemudi ketek dan pedagang kuliner lokal.

Panduan Perjalanan & Akomodasi

Menuju Pulau

Perjalanan menuju Pulau Kemaro adalah sebuah petualangan tersendiri. Dari Dermaga Benteng Kuto Besak (BKB), Anda bisa menyewa speedboat (cepat, 15 menit) atau perahu ketek tradisional (lambat, 30-45 menit).

  • Tips: Gunakan perahu ketek jika Anda ingin menikmati semilir angin dan memotret kehidupan tepian Sungai Musi (“River Life”) yang autentik—melihat anak-anak mandi di sungai dan rumah-rumah rakit.

Akomodasi dan Pengalaman Modern

Berikut adalah rekomendasi 5 hotel terbaik yang lokasinya strategis dan dekat dengan kawasan Sungai Musi (Jembatan Ampera/Benteng Kuto Besak) di Palembang. Daftar ini disusun untuk memaksimalkan kenyamanan wisatawan yang ingin menikmati city light Palembang dan kuliner tepian sungai.

1. Aryaduta Palembang

Hotel ini adalah pilihan favorit wisatawan karena terhubung langsung dengan mall (Palembang Icon) dan berada di pusat kota, memudahkan akses ke Jembatan Ampera maupun bandara.

  • Alamat: Jl. POM IX, Lorok Pakjo, Kec. Ilir Bar. I, Kota Palembang.

  • Jarak ke Sungai Musi (Ampera): ± 3 km (Sekitar 10-15 menit berkendara).

  • Fasilitas Unggulan:

    • Kolam renang outdoor yang luas.

    • Akses langsung ke Palembang Icon Mall.

    • Spa & Gym lengkap.

    • Restoran The Kitchen dengan menu variatif.

  • Kisaran Harga: Mulai dari Rp 750.000 – Rp 1.200.000 per malam.

  • Review Pengunjung: Mayoritas pengunjung menyukai lokasinya yang “One Stop Living” (hotel menyatu dengan mall). Kebersihan kamar sangat terjaga, dan pelayanan staf dinilai sangat ramah dan profesional.

  • Lihat harga diskon di sini: Check out Aryaduta

The Arista Hotel Palembang

Jika Anda mencari kemewahan dan kuliner kelas atas dekat pusat keramaian, The Arista adalah pilihan terbaik. Hotel ini sering menjadi tempat menginap tamu VVIP.

  • Alamat: Jl. Kapten A. Rivai, Sungai Pangeran, Kec. Ilir Tim. I, Kota Palembang.

  • Jarak ke Sungai Musi (Ampera): ± 2,5 km (Sekitar 10 menit berkendara).

  • Fasilitas Unggulan:

    • Restoran Golden Abalone (salah satu Chinese food terbaik di Palembang).

    • Sauna & Spa mewah.

    • Interior kamar elegan dan luas.

    • Layanan Business Center.

  • Kisaran Harga: Mulai dari Rp 950.000 – Rp 1.500.000 per malam.

  • Review Pengunjung: Wisatawan memuji kualitas makanan (sarapan) yang sangat lezat dan bervariasi. Suasana hotel dinilai sangat eksklusif dan tenang meskipun berada di jalan protokol yang sibuk.

  • Lihat ketersedian Kamar di sini: Check out The Arista Hotel

BATIQA Hotel Palembang

Pilihan cerdas bagi wisatawan budget menengah yang menginginkan hotel modern dengan sentuhan budaya lokal yang kental.

  • Alamat: Jl. Kapten A. Rivai No.219, 26 Ilir, Kec. Bukit Kecil, Kota Palembang.

  • Jarak ke Sungai Musi (Ampera): ± 2 km (Cukup dekat, sekitar 8-10 menit berkendara).

  • Fasilitas Unggulan:

    • FRESQA Bistro (Menyajikan kuliner lokal dan internasional).

    • Gym center.

    • Layanan antar-jemput bandara (berbayar).

    • Desain interior bernuansa batik Palembang.

  • Kisaran Harga: Mulai dari Rp 450.000 – Rp 650.000 per malam.

  • Review Pengunjung: Banyak yang merekomendasikan hotel ini untuk business trip atau liburan keluarga hemat. Nilai plus diberikan pada staf yang helpful dan lokasi yang dikelilingi banyak tempat makan (pempek).

  • lihat harga terkini dan termurah di sini: Check out BATIQA Hotel

The 1O1 Palembang Rajawali

Hotel dengan konsep chic dan trendi ini terletak di kawasan Rajawali yang terkenal sebagai pusat kuliner dan bisnis lama Palembang.

  • Alamat: Jl. Rajawali No.18, 9 Ilir, Kec. Ilir Tim. II, Kota Palembang.

  • Jarak ke Sungai Musi (Ampera): ± 3,5 km (Sekitar 15 menit berkendara).

  • Fasilitas Unggulan:

    • Rooftop Pool dengan pemandangan kota.

    • Desain kamar minimalis modern (Instagramable).

    • Meeting room yang cozy.

    • Dekat dengan pusat oleh-oleh pempek.

  • Kisaran Harga: Mulai dari Rp 550.000 – Rp 800.000 per malam.

  • Review Pengunjung: Pengunjung sangat menyukai kolam renang di rooftop dan suasana hotel yang anak muda banget. Sarapannya dinilai enak dengan banyak pilihan menu tradisional Palembang.

  • Lihat Fasilitas Kamar di sini: Check out THE 1O1 Palembang Rajawali

Hotel Santika Radial Palembang

Terletak di persimpangan strategis, hotel ini menawarkan akses mudah ke Jembatan Ampera maupun pusat perbelanjaan Transmart dan Palembang Indah Mall (PIM).

  • Alamat: Jl. Brigjen HM. Dhani Effendi (Jl. Radial) No.1688, 24 Ilir, Kota Palembang.

  • Jarak ke Sungai Musi (Ampera): ± 2 km (Sangat dekat, sekitar 5-8 menit berkendara tanpa macet).

  • Fasilitas Unggulan:

    • Restoran Laksa dengan menu nusantara yang kuat.

    • Kolam renang dan pusat kebugaran.

    • Akses mudah ke transportasi umum.

    • Kamar dengan view kota Palembang.

  • Kisaran Harga: Mulai dari Rp 500.000 – Rp 750.000 per malam.

  • Review Pengunjung: Reviewer sering menyebutkan bahwa hotel ini adalah definisi “Value for Money”. Harganya masuk akal dengan standar kebersihan grup Santika yang konsisten. Lokasinya yang dekat PIM (Mall) menjadi nilai tambah utama.

  •  Check out Hotel Santika Radial Palembang Sekarang!


  • Harga di atas adalah estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung musim liburan (High Season).

  • Sarankan pembaca untuk memesan kamar dengan “City View” jika ingin melihat kerlap-kerlip lampu kota Palembang di malam hari.

Kuliner Wajib

Jangan lupa mencicipi kelapa muda segar yang dijual di warung-warung di pulau. Menikmati air kelapa sambil duduk di tepian sungai, memandang tongkang batu bara yang melintas pelan, adalah definisi relaksasi di Palembang.

Apa Kata Pengunjung 

Berdasarkan sintesis ulasan pengunjung dari Google Map Review, platform review dan media sosial, berikut adalah sentimen umum yang sering muncul:

  • “Spot Foto yang Instagramable”: Banyak pengunjung memuji keindahan arsitektur Pagoda 9 lantai dan suasana klenteng yang berwarna-warni, sangat cocok untuk fotografi.

  • “Panas tapi Layak Dikunjungi”: Keluhan paling umum adalah cuaca yang sangat terik, terutama di siang hari. Pengunjung sangat menyarankan membawa payung, topi, dan sunscreen. Namun, mereka merasa perjalanan tersebut sepadan dengan pemandangannya.

  • “Pengalaman Perahu yang Seru”: Wisatawan menyukai perjalanan menyusuri Sungai Musi menggunakan perahu ketek dari BKB. Ini dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari petualangan ke Pulau Kemaro.

  • “Ramai saat Imlek”: Ulasan sering menyebutkan kepadatan luar biasa saat Cap Go Meh, namun hal itu justru dianggap sebagai daya tarik karena kemeriahan lampion dan suasananya.

  • “Fasilitas Cukup Baik”: Ketersediaan toilet dan penjual makanan/minuman (terutama kelapa muda) dinilai cukup membantu kenyamanan pengunjung.


FAQ (SEO) – People Also Ask

Berikut adalah daftar pertanyaan yang sering diajukan di Google (People Also Ask) beserta jawabannya:

Q: Berapa harga tiket masuk ke Pulau Kemaro? A: Masuk ke area Pulau Kemaro adalah Gratis. Wisatawan tidak dikenakan biaya tiket masuk. Biaya yang perlu dikeluarkan hanya untuk transportasi perahu (sewa ketek/speedboat) untuk menyeberang ke pulau.

Q: Bagaimana cara menuju Pulau Kemaro dari Jembatan Ampera? A: Anda bisa menuju Dermaga Benteng Kuto Besak (BKB) atau Dermaga Pasar 16 Ilir yang berada di dekat Jembatan Ampera. Dari sana, Anda harus menyewa perahu ketek (sekitar 30-45 menit perjalanan) atau speedboat (sekitar 15-20 menit) untuk sampai ke Pulau Kemaro.

Q: Apa legenda yang terkenal di Pulau Kemaro? A: Legenda paling terkenal adalah kisah cinta tragis antara Tan Bun An (Saudagar Tiongkok) dan Siti Fatimah (Putri Palembang). Keduanya tenggelam di Sungai Musi setelah terjadi kesalahpahaman mengenai hadiah guci emas yang dikira berisi sayuran sawi.

Q: Kapan waktu terbaik berkunjung ke Pulau Kemaro? A: Waktu terbaik adalah saat perayaan Cap Go Meh (15 hari setelah Imlek). Pada saat ini, suasana sangat meriah dengan ribuan lampion, atraksi barongsai, dan biasanya disediakan jembatan ponton penyeberangan gratis.

Q: Apakah Pulau Kemaro pernah tenggelam? A: Tidak. Nama “Kemaro” berasal dari kata “Kemarau”, yang merujuk pada keunikan pulau ini yang tidak pernah tergenang air atau kebanjiran, bahkan saat air Sungai Musi sedang pasang tinggi.


Mengutip sebuah refleksi puitis, Pulau Kemaro ibarat “tanda koma” dalam kalimat panjang sejarah Palembang. Ia kecil, namun memberikan jeda dan napas bagi kota ini. Ia mengajarkan kita bahwa perbedaan budaya bukanlah jurang pemisah, melainkan jembatan yang bisa melahirkan legenda abadi.

Entah Anda datang untuk mencari berkah, menelusuri jejak sejarah benteng yang hilang, atau sekadar merayakan cinta bersama pasangan, Pulau Kemaro selalu punya cerita untuk dibisikkan kepada mereka yang mau mendengar deru ombak Sungai Musi.

 

4.5/5

Leave A Comment

Artikel Terbaru

  • Lokasi Pulau Kemaro

05/02/2026|0 Comments

Pulau Kemaro di Palembang: Tempat Menyaksikan Perayaan Cap Go Meh yang Paling Meriah

  • Ulasan Galabo kuliner Malam Solo

05/02/2026|0 Comments

Informasi harga tiket, penginapan, hotel, kuliner, jam buka dan fasilitas tempat wisata

  • Dermaga Jayabaya Kediri

05/02/2026|0 Comments

Informasi harga tiket, penginapan, hotel, kuliner, jam buka dan fasilitas tempat wisata

  • Lhasa Great Mosque

05/02/2026|0 Comments

Informasi harga tiket, penginapan, hotel, kuliner, jam buka dan fasilitas tempat wisata

  • Pinus Longaeva

05/02/2026|0 Comments

Informasi harga tiket, penginapan, hotel, kuliner, jam buka dan fasilitas tempat wisata

05/02/2026|0 Comments

Informasi harga tiket, penginapan, hotel, kuliner, jam buka dan fasilitas tempat wisata